Tetapi ... tetapi karena mesin seperti itu belum ada maka saya berpendapat; daripada tidak ada maka ya seadanya saja lah ada rocky gerung yang mungkin bisa ditempatkan pada posisi itu ? Boleh saja asal pertama; beliau jangan dikultuskan,artinya jangan dipandang bahwa fikiran fikirannya selalu benar dan rasional sebab suatu saat bisa saja terpeleset menjadi tidak berfikir rasional, namanya juga manusia. artinya bila suatu saat beliau salah ya salahkan, jangan sudah salah tapi harus dianggap benar karena dianggap 'setengah dewa'.apalagi penyakit akut masyarakat kita warisan era penjajah adalah kultus
Dan kedua harus diberi peringatan kalau sudah ditunggangi kepentingan tertentu, karena kepentingan akan bisa memiringkan derajat akal yang tadinya berdiri tegak dan ketiga harus menjaga emosi kemanusiaannya jangan terlalu larut oleh emosi atau terlalu dibawa bawa saat mengungkap fikiran fikiran rasionalnya,harus dingin seperti Febridiansyah dari KPK yang tingkat ketenangannya jauh diatas Rocky.sebab emosi juga bisa menjadi faktor yang ikut memiringkan nalar.
Kalau tidak sanggup dengan syarat syarat diatas? ya tinggal katakan saja sebab ini cuma sekedar eksperiment toh
Mengapa harus ada dan apa fungsi hakim nalar?
Karena dewasa ini nalar manusia banyak yang tertidur atau banyak yang ditidurkan secara sengaja oleh berbagai kepentingan, mungkiin termasuk kepentingan politik,ekonomi,budaya dlsb jadi perlu orang yang bisa dan berani menggebrak nalar nalar yang tertidur itu.
Jadi daripada tidak ada mesin yang sempurna untuk kepentingan itu,ya terimalah yang ada dengan segala kekurangannya tentu ....
......
Atau andaipun tak harus jadi hakim nalar dengan prasyarat super berat itu ya setidaknya cukup menjadi juru gedor nalar karena seperti sebuah kesebelasan yang perlu striker maka negeri ini pun perlu juru gedor nalar.dan untuk soal itu apa yang RG lakukan sudah membuahkan hasil.
Ada keriuh rendahan soal 'nalar', ini suatu awal yang positif biar orang orang pada introspeksi diri, termasuk tentu introspeksi nalar.Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H