Dalam konstruksi ilmu Ilahiah ilmu tentang realita adalah ilmu yang pertama atau landasan dasar dari seluruh ilmu dimana semua ilmu berpijak atau dipijakkan kedalamnya.analoginya ibarat seluruh bangunan yang hendak dibangun maka syarat pertama adalah mesti tersedia tanah kosong dimana semua bangunan akan berpijak kepadanya
Dengan kata lain,konstruksi ilmu Ilahiah bukan suatu yang berpijak pada ilusi-imajinasi-mitos atau sekedar ide-pemikiran manusiawi semata sebagaimana  yang ada dalam filsafat melainkan pada realita hakiki atau pada seluruh yang diciptakan Tuhan sebagai Ada
Hanya realita yang dimaksud tentu bukan realitas sebatas pemahaman manusiawi dalam arti realitas yang dapat ditangkap pengalaman inderawi melainkan realitas dalam pengertian yang bersifat menyeluruh yaitu semua yang diciptakan Tuhan menjadi atau sebagai Ada.Â
Sebagai contoh ; alam akhirat dipandang bukan sebagai realitas dalam pandangan manusia karena berada diluar pengalamannya tetapi dalam konstruksi ilmu Ilahiah ia adalah bagan dari realitas karena diciptakan Tuhan sebagai Ada hanya Ada nya alam akhirat itu bersifat gaib dari pandangan manusia.mengapa alam akhirat di posisikan sebagai Ada,padahal itu berada diluar pengalaman manusia jawabnya adalah karena Tuhan menyatakannya sebagai Ada
Jadi kita memahami konsep Ada disini adalah menurut sudut pandang Tuhan atau berdasar deskripsi Tuhan bukan menurut sudut pandang manusia yang berdasar pada pengalaman yang terbatas atau bukan berdasar idea idea manusia. itu sebab konstruksi ilmu Ilahi tidak bisa disandarkan pada sudut pandang manusia karena sifat dari kualitas pengalaman manusia yang terbatas dan tidak bersifat menyeluruh.Â
Dan karena membahas hal yang diluar media inderawi-diluar pengalaman manusia-diluar prinsip empirisme maka kita harus menggunakan media lain yang tersisa yaitu akal-dengan bermain logika-ber nalar.media lain adalah mata batin serta keyakinan.dengan kata lain,adanya berbagai media abstrak dalam diri manusia itu fungsi alamiahnya adalah menghandle atau melapisi kelemahan serta keterbatasan dunia inderawi
Fungsi akal dengan logika atau penalarannya dalam menangkap atau memahami Ada adalah menangkap bangunan konstruksi Ada.contoh,alam akhirat dengan infrastrukturnya (pengadilan Tuhan,sorga-neraka) di deskripsikan sebagai realitas-sebagai Ada dan akal dapat memahaminya karena itu berhubungan secara kausal-secara sistemis dengan perikehidupan manusia di dunia.Â
Dimana dalam perikehidupan manusia ada kebaikan serta ada kejahatan,ada benar serta ada salah yang mana persoalan seputar itu tidak terselesaikan secara tuntas di dunia sehingga memerlukan fasilitas lain sebagai kelanjutannya yang mana alam akhirat adalah fasilitas dimaksud sebagaimana yang dinyatakan Tuhan
Dengan kata lain kalau melihat realitas dari sudut pandang Tuhan yang bersifat menyeluruh itu maka akan terbagi kepada dua bagian atau dua dimensi antara yang bersifat lahiriah-tertangkap pengalaman dunia indera dan yang bersifat gaib-diluar pengalaman inderawi.dimana tanpa memahami konsep realitas secara menyeluruh seperti itu maka pemahaman terhadap konstruksi ilmu Ilahi tak akan pernah bisa difahami.konstruksi ilmu Ilahi tak akan dapat difahami misal apabila di pijakkan atau berpijak atau memakai landasan dasar prinsip materialisme yang tidak mengakui adanya realitas lain diluar pengalaman manusia
Atau dengan kata lain,diatas landasan pemahaman terhadap realitas yang bersifat menyeluruh lah maka konstruksi ilmu pengetahuan yang bersifat menyeluruh dapat kita fahami.sedang diatas prinsip materialisme yang tidak mengakui realitas lain diluar pengalaman maka konstruksi ilmu pengetahuan yang dapat didirikan atau dipijakkan diatasnya bersifat terbatas.misal utamanya hanya ilmu ilmu empirik atau ilmu logika yang dibatasi oleh unsur pengalaman seperti logika logika yang diperkenalkan oleh Immanuel kant
Itulah,konstruksi ilmu Ilahiah atau bangunan konstruksi ilmu yang dinyatakan Tuhan memang bukan konsep yang lahir atau yang digali dari filsafat tetapi bangunan konstruksi ilmu demikian tidak boleh difahami sebagai hanya berangkat dari idea idea-dari dogma atau apalagi berangkat dari mitos melainkan harus difahami sebagai berpijak dari realitas atau dari Ada,tetapi realitas atau Ada yang bagaimana yang dimaksud maka diatas telah saya jelaskan yaitu Ada atau realitas menurut Tuhan bukan menurut konsep manusia
Karena segala suatu yang tidak berangkat dari realitas itu tidak memiliki nilai hakiki secara keilmuan,sebagai contoh,konsep konsep yang hanya berangkat dari idea-idea atau pemikiran pemikiran atau konsep manusiawi sebagaimana yang biasa ada ditemukan dalam filsafat itu belum tentu memiliki nilai keilmuan yang bersifat hakiki apabila tidak berangkat dari atau tidak bersesuaian dengan realitas
Ini juga untuk membantah pandangan bahwa deskripsi tentang ilmu ilmu yang berkarakter Ilahiah seperti ilmu hakikat-ilmu hikmat (ilmu tentang makna terdalam dari segala suatu yang dihubungkan dengan Tuhan) itu hanya berdasar dogma atau tidak berdasar realitas.maka karena itulah sebelum lebih jauh membahas ilmu ilmu yang berkarakter Ilahiah maka sebagai landasan dasar atau sebagai 'tanah dimana diatasnya akan di dirikan bangunan bangunan' maka ilmu tentang realitas atau tentang Ada harus di deskripsikan,tentu saja Ada atau realitas menurut Tuhan bukan menurut sudut pandang manusia yang bersandar pada unsur pengalaman yang terbatas itu
Dan itulah,memahami realitas atau memahami Ada harus selalu di upayakan meluas serta menyeluruh-bukan menyempit dan karenanya jangan bersandar melulu hanya pada prinsip materialisme atau prinsip empirisme atau prisnsip sainstifik yang hanya bersandar pada unsur pengalaman manusia yang terbatas.karena bila mengandalkan pada metodologi sainstifik maka seluas apapun realitas yang dapat diungkap sains maka itu tetaplah hanya satu bagan dari realitas dan bukan realitas yang bersifat menyeluruh
Dan sebab itu saya mengajak menelusuri ilmu tentang realitas ini bukan untuk agar manusia memahami satu bagan saja dari realitas tetapi untuk agar manusia memahami realitas yang bersifat menyeluruh tetapi untuk kepentingan demikian tentu manusia tak bisa sendirian sebab harus mulai masuk wilayah Ilahiah atau meminta bantuan Tuhan sebagai pemandu
Sedang sekali lagi dalam diri manusia ada peralatan atau media atau instrument yang membuat kita dapat memahami realitas menyeluruh yang Tuhan ungkapkan dan itu adalah akal.dengan bermain logika kita dapat memahami misal mengapa akhirat dimana didalamnya ada pengadilan Tuhan,sorga-neraka harus ada.dengan kata lain realitas yang Tuhan ungkap bukan realitas yang sulit difahami akal atau yang irrasional melainkan yang konstruksinya bercorak rasional sehingga akal dapat membaca serta memahaminya
Dan itu makna pernyataan al hadits 'tidak ada agama melainkan bagi yang berakal' karena dengan akal nya manusia dapat menangkap rasionalitas dari konsep konsep Ilahiah termasuk konsep ilmu pengetahuan Ilahiah dimana didalamnya terdapat konsep ilmu yang hanya dinyatakan oleh kitab suci seperti konsep ilmu hikmat
Tetapi itulah rasionalitas yang bagaimanapun serta ilmu Ilahiah setinggi apapun yang ditelusuri serta didalami semua harus dimulai dari pemahaman bahwa semua itu berpijak atau berdasar pada fakta-realitas bukan hanya sekedar dogma.karena segala suatu yang tidak berpijak pada realitas memang tidak memiliki nilai kebenaran yang hakiki
......
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI