Krisis itu memang terasa. Hanya saja, ini tidak cukup.
Pasalnya, para penggerak politik antikemapanan itu malah terlihat seperti kriminal kelas teri yang sedang mencari-cari pembenaran ideologis dari aksi kejahatannya sendiri.Â
Tidak ada pelukisan para penentang kemapanan ini berdebat tentang kondisi-kondisi buruk yang harus dijungkirkannya, misalnya.Â
Atau, bagaimana kekuasaan dari kelas kaya terlukiskan sebagai bentuk-bentuk dari krisis hidup bersama, sama tak cukup terlukiskan.Â
Barangkali Alistair Banks Griffin memang tidak respek dengan perlawanan yang seperti itu. Lebih persisnya, lebih ingin menunjukan kebenaran hukum besi bahwa revolusi hanya akan memangsa anak kandung sendiri!Â
Kedua, tentang bagaimana subyek perempuan-feminis dihadapkan dengan krisis sosial yang sedikit banyak bersumber dari "pertentangan terbukanya". Atau bersumber dari kepercayaan akan dunia yang lebih baik yang justru memakan korban keluarganya?
Apakah Naomi Watts sukses menampil June yang menanggung dosa dari sikap radikalnya sebagai proponen dari perlawanan antikemapanan?
Saya rasa, sebagai pembaca film jenis amatir dan tidak memiliki panutan yang haqiqi, Naomi Watts sukses menghidupkan sosok June yang paranoia itu.Â
Dia begitu kurus, lusuh dan terlihat mudah meledak tapi rapuh. Karena itu berbahaya, termasuk kepada orang-orang terdekat yang memaklumi dan berusaha menyembuhkan rasa bersalahnya.Â
June bisa dipandang sebagai kehadiran semesta individual dalam semesta sosial yang kacau. Sebelum tiba pada bagian dimana June dikisahkan membuat buku best seller yang menyerang kekayaan ayahnya, bahkan mengakibatkan kematian dan bubarnya satu keluarga, June tampak dalam krisis yang serius.
Ia dilukiskan begitu rapuh, kondisi yang seolah mengatakan jika serangan-serangannya terhadap kemapanan dan borjuasi terhadap keluarganya sendiri telah menjadi senjata yang balik memakan keyakinannya terhadap Politik Antikemapanan.