Dari buku ini juga, kita bisa melihat bagaimana perjalanan politik yang menciptakan dirinya sebagai politisi sipil yang sukses membangun relasi dengan kelas militer, khususnya dengan LB Moerdani. LB Moerdani atau familiar dikenal Benny Moerdani sendiri adalah orang yang ditugaskan oleh Soeharto untuk mengawasi dirinya sebelum diputuskan sebagai Sekjen Golkar.
***
Saya kira, Menapak Koridor Tengah termasuk yang "lulus sensor" jika ditakar dengan empat parameter sederhana versi saya di atas. Lebih dari itu, saya rasa buku ini tergolong memoar yang penting dipelajari generasi muda, generasi yang tidak mengalami tiga zaman apalgi berada di pusat pusaran politiknya.
Jelas saja ada banyak sekali cerita yang merupakan "real politik" di balik layar dari satu peristiwa politik nasional yang tidak cukup di-cover oleh mass media saat itu yang bisa dilihat di sini. Misalnya saja, salah satunya adalah cerita tentang Soeharto sebagai presiden yang selalu membaca laporan menterinya dan mengajak berdiskusi. Kebiasaan yang hilang menjelang kejatuhannya.Â
Atau cerita tentang Moerdiono, yang sangat lamban dalam berbicara, sejatinya adalah seorang petinggi negara yang memiliki kehati-hatian yang tinggi sekali. Atau cerita tentang dampak Revolusi Iran yang sempat membuat Gokar diserang. Atau ketegangan di balik pencalonan Soedharmono sebagai wakil presiden ke-5 yang sempat membuat Benny Moerdani kecewa dengan sikap Soeharto. Â Â
Intinya, buku ini perlu dibaca untuk melihat sejarah Orde baru dari sisi pelakunya; dari sisi manusia dalam Sejarah. Bahwa kisah yang dituturkan masih harus diperiksa "obyektivitas historisnya", itu sudah di luar koridor artikel ini. Barangkali di waktu yang lain.Â
Tabik.
***
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI