ITHTS juga merekam spirit ekonomi kapitalisme merkantilisme yang sejenis dengan yang digambarkan Milton. Spirit kapitalisme merkantilis yang melahirkan malapetaka dan tragedi, bukan saja di tanah dan rakyat jajahan namun juga bagi bangsanya sendiri.
Dalam catatan saya, paling tidak ada dua pesan menonjol dari film yang menunjukkan "kritik moral terhadap kapitalisme merkantilis" itu :
Pertama, film ini menunjukan bahaya dari ambisi, keserakahan, dan perburuan keuntungan dalam sebuah zaman dimana industrialisme belum berkembang baik, zaman kapitalisme merkantilis. Ini juga tentang keserakahan yang dikontrol oleh segelintir orang penyandang dana yang mengatur dan menikmati hasilnya dari ruang-ruang tertutup. Gairah dan ambisi serakah yang tidak mengambil pusing dengan ancaman malapetaka yang mendera awak kapal.
Kedua, film ini juga berpesan kalau cerita sesungguhnya (obyektif) tentang tragedi dan malapetaka tidak boleh disenyapkan oleh tekanan kepentingan ekonomi politik dari segelintir orang yang serakah. Pengalaman melewati tragedi bukan saja menjadi pembelajaran tetapi juga penghargaan terhadap mereka yang merelakan mati demi menyelamatkan yang lain agar tetap hidup. Singkat kata, sejarah tentang tragedi tidak boleh menulis dirinya dalam kebohongan demi menjaga kepentingan dan reputasi segelintir manusia yang bersyahwat memburu untung tiada ujung.
Agak keluar konteks, bagi saya, film dengan latar belakang sejarah maritim pun kritik atas moralisme ekonomi seperti ini sudah harus menjadi garapan serius insan perfilman di Indonesia. Tegasnya, dimasukan sebagai salah satu fokus pengembangan industri kreatif berbasis industri film dari negara dan pelaku swasta. Pertimbangan jangka panjangnya adalah memperkuat kesadaran sejarah dan budaya sebagai negeri dengan masa lalu narasi maritim yang sangat kuat turut.
Termasuk juga pertimbangan ikut memperkuat konstruksi soft power negara Republik Indonesia. Jepang sudah melakukan ini dengan menggunakan, salah satunya, popularitas kartun Doraemon dalam diplomasi politiknya secara internasional demi kepentingan menjaga "hegemoni mereka" di Asia. Sama juga dengan Cina yang dalam menjual filmnya tidak mengabaikan latar belakang budaya dan filosofis dalam cerita perang atau silat-silatan.
Karena mereka memang berkehendak "mengatur dunia", bukan sekedar pemandu sorak.
Mungkinkah?
***
Referensi
1. Informasi tambahan film In the Heart of the Sea, bisa baca  di sini