Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Konsultan - Pengamat dan Praktisi
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Mengalirdiakunketiga05092020

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Ditahan Qatar di Laga ke-11, Karakter Asli STy Semakin Kita Pahami

21 September 2020   09:01 Diperbarui: 21 September 2020   09:08 452
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.


Laga uji coba ke-11 Timnas U-19 telah berlangsung dengan hasil Witan cs ditahan imbang Qatar 1-1.

Dengan demikian, catatan prestasi Shin Tae-yong (STy) dalam memproses Timnas U-19, untuk sementara menjadi 2-2-7, 2 menang, 2 seri, dan 7 kalah.

Namun, meski selama ini STy selalu bicara proses dan tidak mementingkan hasil yang membikin publik sepak bola nasional "gerah" karena memang selama timnas U-19 sudah merasakan jadi bulan-bulanan timnas dan tim lain karena sudah 7 kali kalah selama di asuh STy, nampaknya kegerahan publik sampai juga ke telinga STy.

Ternyata, STy menyesal, tatkala Timnas U-19 ditahan pada uji coba kedua, setelah kebobolan pada menit terakhir.

Pertanyaannya, mengapa STy tidak menyesal, membiarkan selama 90+4 menit Garuda Muda tumpul? 1 gol yang dibikin pun karena lemparan ke dalam, bukan dari hasil permainan tik-tak di lapangan.

Stadion Velika Gorica, Zagreb, pada Minggu (20/9/2020) Malam WIB, ternyata menjadi saksi dari "Keras Kepala/keras hati" nya STy yang tetap memaksakan pakem 4-4-2, dengan mengorbankan David dan Beckam menjadi pemain yang saling menggantikan, sementera terus membiarkan dua penyerang di depan yang hampir sepanjang laga tak berkontribusi. Dua penyerang ini benar-benar justru menjadi tembok penghalang Timnas U-19 menciptakan gol dalam permainan. 

Sebab, selain skill individu yang masih dibawah standar, dua penyerang yang diturunkan STy pun sangat lemah dalam kecepatan.

Lebih ironis, Beckam yang jelas-jelas memberikan warna baru bagi permainan Timnas U-19, yang kali ini diturunkan sejak menit awal, sehingga tim mampu mengontrol laga dan terlihat mampu menguasai permainan, pun lebih bertenaga dalam serangan, justru ditarik di babak kedua digantikan tandemnya David Maulana.

Dua penyerang yang terus menghambat Timnas U-19 mencetak gol, malah masih dibiarkan berlari-lari "jogging" di lapangan.

Lebih dari itu, kini publik sepak bola nasional juga semakin tahu, bahwa kerangka Timnas U-19, dengan materi pemain yang dibawa ke Kroasia,  sudah jelas pemain itu-itu saja, demi mengisi pakem andalan 4-4-2 yang maaf, "sudah ketinggalan zaman" bila materi pemain belum ada perubahan, khususnya di sektor penyerang.

Lebih miris lagi, keras kepala/keras hatinya STy nampak jelas, sebab dari semua pemain yang di bawa ke Kroasia, masih ada beberapa pemain yang hanya ikut latihan, makan dan tidur jauh-jauh ke negeri orang, tanpa semenit pun diberikan kesempatan bermain.

Hargai perasaan pemain 

Ini adalah sejarah. Mungkin bukan saja untuk sepak bola Indonesia, tapi sepertinya juga untuk sepak bola dunia. Ada seorang pelatih, yang meski dalam laga uji coba, khususnya di Kroasia yang sudah memainkan 5 laga, masih ada pemain yang belum merumput semenit pun. Di mana logikanya? Sulit diterima nalar. STy terlalu "kasar" menghukum pemain yang dipilih dan dibawa, namun tak semenit pun memberikan kepercayaan pemain unjuk skill.

Satu sebab, mengapa STy masih juga belum memeberikan kesempatan pemain lain merumput, mungkin karena pakem 4-4-2 sehingga menjadikan STy menutup mata dan hati.

Fakta ini, sungguh sangat kontradiksi dengan tajuk TC dan uji coba, sebab tidak semua pemain diberikan kesempatan untuk tampil.

Kasihan para pemain yang terus disingkirkan dan dibunuh karakternya. Bagaimana kira-kira perasaan STy bila dia jadi salah satu dari pemain yang "tak dianggap?" Bahkan dicoba pun belum.

Semakin kontradiksi, STy ternyata punya rasa menyesal begitu Timnas kebobolan di menit akhir. Mengapa STy tidak menyesal, Timnas U-19 tidak menjebol gawang Qatar selama 90+4 waktu bermain, karena membiarkan pemain yang kurang kontributif terus berada di lapangan dan terus jadi pilihan?

Mengapa menyesal, katanya ini laga uji coba, masih proses. Coba simak penyesalan STy, dikutip dari situs resm PSSI.

"Sayang kami harus kebobolan di menit terakhir. Tetapi secara keseluruhan permainan kita membaik, stamina pemain juga semakin ciamik. Namun power pemain akan kita poles dan perbaiki lagi," kata Shin Tae-yong.

Mengapa STy tidak juga terbuka mata dan bilang " Sayang, saya ternyata membiarkan Timnas U-19 menghambat menang karena saya memaksakan pola 4-4-2, mengganti Beckam dengan David, dan terus membiarkan dua penyerang di lapangan sepanjang laga, padahal saya memahami kualitas pemain yang ada".

Bisa jadi, STy juga masih malu-malu kucing menggunakan kerangka pemain Timnas bentukan Fakhri Husaini secara utuh, agar publik sepak bola Indonesia dan dunia memahami, ini lho STy. Mungkin.

Kita tunggu laga uji coba ke-12  Timnas U-19. Apakah STy masih akan tetap keras kepala dan tak juga memberikan kesempatan pemain yang dibawa ke Kroasia hanya numpang latihan, makan-tidur, dan berpariwisata menjadi penonton di tribun?

Harus diakui, hingga saat ini sudah banyak pelajaran dari STy khususnya bagi Timnas U-19 dan umumnya bagi sepak bola nasional, termasuk keberanian STy menghadapkan Timnas U-19 dengan lawan-lawan yang levelnya jauh di atas. Namun, STy tetap saja masih menutup mata dan hati atas kualitas materi pemain yang di bawa ke Kroasia demi memenuhi ambisinya membentuk Timnas U-19 berpola 4-4-2. 

Andai saja STy mau menanggalkan ambisi pakem 4-4-2 dan mengubah sementara dengan pakem 4-3-3, STy tak harus menyesal kebobolan di menit akhir dari Qatar. Publik sepak bola nasional tak harus menonton laga Timnas U-19 yang dibarisan depan terus terlihat seperti main-main. Kasihan pemain tengah, belakang, dan kiper, menjaga gempuran lawan, namun saat mencoba menyerang selalu pupus.

Bila bukan pakem 4-4-2, meski kebobolan 1 gol di menit akhir, bisa jadi, sebelum kebobolan, Timnas U-19 sudah mencetak lebih dari 1 gol, dan hasil akhir tetap menang.

Tapi biarlah STy tetap keras kepala dan keras hati dengan cara dan pemikirannya. Toh ini masih proses seperti yang selalu STy ungkap.

Bagaimana laga ke-12 meladeni Bosnia & Herzegovina. yang akan berlangsung pada Jumat (25/9/2020)?

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun