Alhasil, semua kombinasi itu membuat kopitiam pun menjadi bagian tidak terpisahkan dari keseharian warga lokal di sini. Bahkan di Penang, kopitiam disebut sebagai miniatur negara Malaysia yang multietnis itu. Dibalut semangat "Muhibbah" yang kuat di antara sesama pengunjung kopitiam. Muhibbah dalam bahasa Melayu bisa diartikan sebagai suatu rasa persahabatan, toleransi dan pengertian. Jadi klop sudah!
Dan barangkali itu rahasianya. Meskipun terus digempur jaringan kedai kopi dengan konsep modern, termasuk kedai kopi waralaba terkenal, kopitiam tetap bertahan hingga kini. Tidak hanya di pulau Penang ini. Tetapi juga di berbagai kota lain di Malaysia.
Pun sama dengan di Singapura dan beberapa kota di Indonesia. Di Jakarta, misalnya, suasana khas ala kopitiam bisa ditemukan di beberapa kedai kopi di dekat Pasar Muara Karang, Jakarta Utara. Suasana khas kedai kopi tradisional yang tentu berbeda dengan kedai kopi dengan merek Kopitiam yang sudah masuk ke shopping mall.
Sebagian besar kopitiam di Penang sejatinya telah berdiri selama puluhan tahun. Kedai Kopi Seng Thor, yang beralamat di Lebuh Carnarvon, contohnya, telah dibuka sejak tahun 1950-an. Sekitar 70 tahun lalu. Kedai kopi yang berdiri persis di sudut Lebuh Carnarvon dan Lebuh Kimberley itu selalu ramai pengunjung.
Selain menyajikan kopi, roti panggang berlapis serikaya, telur setengah matang, kedai kopi ini sangat terkenal dengan Loh Mee-nya yang kerap ludes sebelum jam 10 pagi. Penang Loh Mee adalah sejenis mie Hokkien yang ditandai dengan kuah gelap, daging rebus dan telur.
Tidak berbeda jauh dengan Kedai Kopi Seng Thor, sebuah kopitiam lain yang berjarak hanya sekitar 220 meter di jalan yang sama, yakni OO White Coffee Cafe pun tidak kalah kondang. Dengan posisi kedai yang juga di hoek, kedai kopi ini sangat terkenal dengan Ipoh white coffee-nya.
Lain lagi dengan Kheng Ping Cafe yang berada di Jalan Penang No. 80, George Town. Atau tepatnya di pojok Jalan Penang dan Jalan Sri Bahari. Kopitiam ini pun memiliki makanan andalan tersendiri, yaitu Lor Bak, Char Koay Teow dan Hokkian Mee.Â
Kala mengunjunginya di Minggu pagi kemarin, semua meja telah terisi penuh. Gerimis pagi pun tidak mampu menahan banyak warga Penang yang mampir ke kopitiam ini.
Meskipun kopitiam dianggap identik dengan warga keturunan Tionghoa. Begitupun makanan yang disajikan umumnya tidak halal. Tetapi, tidak berarti tidak ada kopitiam yang aman bagi wisatawan Muslim. Setidaknya, ada satu kopitiam berlabel halal yang sempat saya kunjungi.Itulah Kedai Kopi Bwee Hwa yang bisa ditemukan di Jalan Dickens No. 10, George Town. Tidak terlalu jauh dari Pasar Chowrasta yang terkenal itu. Sajian yang ditawarkan kopitiam ini awalnya sama dengan kopitiam lainnya ketika dibuka pada tahun 1967. Akan tetapi, sejak tahun 1992, pemiliknya memutuskan untuk merubah konsep dan fokus menyajikan makanan halal.Â
Hasilnya, Bwee Hwa pun makin populer di hampir semua kalangan. Kopitiam yang sangat 'Muslim-friendly' ini tentu saja juga memiliki menu favorit. Setelah melirik kiri-kanan, ternyata yang paling banyak dipesan adalah Curry Mee, salah satu masakan yang menjadi signature-nya.