Pesawat milik AerCap yg pernah disewa Sriwijaya. Sumber: Jerry Zhang / www.planespotters.com
AerCap konon akan mengakuisisi
GECAS. Jika terealisasi, bisa dibayangkan kekuatan
AerCap. Akan semakin tidak tertandingi di industri ini. Seperti dikutip dari laman
www.aercap.com, pada 12 Mei 2021 lalu,
AerCap Holdings N.V. telah mengkonfirmasi persetujuan pemegang sahamnya untuk mengakuisisi
GECAS.Irlandia sendiri makin mengokohkan posisinya sebagai kiblat bisnis penyewaan pesawat di dunia. Negara yang juga terkenal dengan bir Guinness ini sejatinya bukan negara pembuat pesawat terbang. Tetapi, Irlandia saat ini diperkirakan menguasai 60 persen pangsa pasar leasing global. Suatu strategi bisnis yang cerdas. Biarkan negara lain yang membuat, Irlandia cukup memasarkannya. :)
Bisnis leasing pesawat yang menggiurkan. Sumber: www.aerotime.aero
Lebih dari 50 perusahaan
leasing pesawat, termasuk 14 dari 15
Lessor teratas dunia kini berbasis di Irlandia. Selain
AerCap, nama-nama besar lainnya adalah
Avolon, Ansett Worldwide, Nordic Aviation Capital, SMBC Aviation Capital, dan lain-lain. Menariknya, banyak
Lessor di Irlandia ternyata sudah dimiliki pemodal raksasa dari China.
Iklim bisnis yang kondusif inilah yang boleh jadi memungkinkan dua maskapai kategori LCC (Low Cost Carrier) asal Dublin dan London, yakni Ryanair dan Easyjet pun melaju kencang sebagai LCC terkemuka di dunia.
Ryanair, LCC asal Dublin-Irlandia. Sumber: Farkas Tamas / www.planespotters.net
Ryanair tentu saja menggunakan jasa perusahaan
leasing untuk memperkuat jajaran armada maupun demi memperluas jaringannya. Sama dengan maskapai terkenal di dunia lainnya. Di antaranya,
Air Asia, American Airlines, Cathay Pacific, Garuda Indonesia, Southwest, Thai Airways, Qatar, dan lain-lain.
Sejatinya, di industri aviasi terkini, banyak maskapai penerbangan dunia memilih opsi menyewa pesawat daripada membelinya sendiri. Ini adalah salah satu cara cepat untuk menambah kapasitas armada dan memperluas rute penerbangan. Dan tentunya tanpa terbeban biaya pengadaan pesawat yang fantastis.
Dikutip dari sebuah panduan yang dirilis FAA (Federation Aviation Administration), terdapat dua model leasing pesawat yang berlaku saat ini, yakni Wet Lease (Sewa Basah) dan Dry Lease (Sewa Kering).
Wet Lease biasanya dipilih oleh maskapai untuk tujuan operasional jangka pendek. Misalnya, ketika terjadi penambahan jumlah penumpang yang signifikan di periode musim liburan atau high season. Sebaliknya, Dry Lease lebih disukai maskapai yang ingin mengoperasikan pesawat untuk jangka waktu panjang.
Ilustrasi menyewa secara Wet Lease, sudah termasuk pesawat, kru, dll. Sumber: vivadifferences.com
Jika di
Wet Lease, pihak penyedia pesawat
(Lessor) menyiapkan paket lengkap yang dikenal dengan istilah
ACMI (Aircraft, Crew, Maintenance and Insurance) atau pesawat, kru, pemeliharaan dan asuransi. Maka di
Dry Lease perusahaan penyewaan pesawat hanya menyediakan pesawatnya.
Garuda Indonesia, sebagai contoh, konon menggunakan opsi 'Dry Lease' atau penyewaan jangka panjang. Bisa dimengerti. Sebagai maskapai besar, Garuda tentu saja lebih suka mengelola aspek layanan dari kru didikan sendiri yang memahami persis budaya korporasinya. Sementara untuk aspek perawatan, maskapai pelat merah ini sudah memiliki GMF (Garuda Maintenance Facility).
GA Bombardier yang dikembalikan ke Lessor. Sumber: Fikri Izzudin Noor / www.planespotters.com
Namun, siapa bisa menduga. Pandemi
covid-19 ini demikian keras menerjang industri aviasi global. Jumlah penumpang merosot. Pendapatan ikut tergerus habis. Dan pilihan menyewa secara
'Dry Lease' jelas makin membebani kas perusahaan.
Lihat Money Selengkapnya