Nah, sesekali  pulang kampuang,kelebihan uang minum kopi dan santap pisang goreng,ya dikasihkan sajalah pada yang melayani kita. Tengoklah betapa gembira hatinya dan berulang kali mengucapkan "Alhamdulilah..tarimo kasih yo Om..." Membuat orang gembira,bukankah suatu hal yang juga membuat hati kita senang? Nah, disana senang,disini senang,hanya dengan uang recehan yang kita ikhlaskan.
Yuk Kita Lanjutkan Perjalanan
Setelah puas mereguk keindahan alam disini dan merasakan sejuknya air gunung yang turun germercik,baikkah kita lanjutkan perjalanan menuji ke Bukittinggi.
Tapi sebelumnya karena jam sudah  menunjukan pukul 12.00 dan perut sudah mulai merengek rengek, maka perlu kita bujuk dengan makan Sate Mak Syukur.
Sambil menunggu sate siap disediakan, kita nikmati terlebih dulu "rakik kacang" dan "karupuak janget", serta "lapek bugi" nan tiada duanya di dunia. Nggak bisa berleha leha disini, karena banyak tamu yang menantikan diluar.
Di Bukittinggi kalau masih terasa lapar,bisa singgah di Benteng Fort de Kock,karena ada Rumah Makan Famili disana,yang enak dan murah meriah. Sambil duduk menikmati makanan,mata kita juga dapat dimanjakan dengan memandang kota Bukittingi dari ketinggian.Â
Dan tentunya jangan lupa berselfei ria di depan Jam Gadang, Karena sudah tiba di Jam Gadang,maka parkirlah kendaraan disana dan jalan kaki sambil berbelanja di Pasar Tradisional disini.
Jangan pernah gunakan kata :"Kalian atau Kau selama berada di kampung halaman saya. Karena hal itu dianggap sangat tidak sopan,walaupun diucapkan kepada orang yang lebih muda,kecuali kepada anak anak kecil. Disini peribahasa :"Dima bumi dipijak,disinen langik dijunjuang" sangat dipatuhi.Â