Mohon tunggu...
TJIPTADINATA EFFENDI
TJIPTADINATA EFFENDI Mohon Tunggu... Konsultan - Kompasianer of the Year 2014

Lahir di Padang,21 Mei 1943

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

"Double Minoritas?" Sungguh Saya Tidak Merasakan

13 Agustus 2019   18:59 Diperbarui: 13 Agustus 2019   19:20 407
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kenangan di Banda Aceh/dokpri

Membuka Hati Untuk Persahabatan

Setiap kali ada berita trend yang membahas tentang: "double minoritas", saya selalu terpana. Mencoba mengingat-ingat, apakah sepanjang perjalanan hidup saya yang sudah melalui tiga perempat abad ini pernah ditolak untuk berbaur dengan berbagai komunitas? Walaupun sudah berusaha untuk mengingat ingat, bahkan bertanya kepada istri saya, tapi jawabannya adalah sama, yakni kami sama sekali tidak merasa diri kami sebagai double minoritas.

ket.foto: diundang makan bersama di Banda Aceh..dokpri
ket.foto: diundang makan bersama di Banda Aceh..dokpri

Sejujurnya memang ada yang mengkhawatirkan keselamatan kami berdua ketika untuk pertama kalinya kami berkunjung ke Banda Aceh.

Saya sangat memahami bahwa teman teman yang memberikan nasihat agar membatalkan niat kami untuk ke sana.. Karena menurut teman teman kami berdua menyandang predikat "double minoritas".

Mengingat bahwa hukum di Banda Aceh sangat keras.maka ada rasa kuatir kedatangan kami akan menyebabkan kami ditimpa masalah. Baik karena warna kulit yang berbeda, budaya yang tidak sama, cara berpakaian berbeda dan yang paling dikuatirkan adalah agama yang kami imani berbeda dengan warga lokal.

Saya hanya mengucapkan terima kasih atas niat baik mereka dan mengatakan bahwa saya dan istri dilahirkan dan dibesarkan di daerah Sumatera Barat yang penduduknya sekitar 97 persen beragama Islam dan tidak pernah  terjadi masalah apapun.

Bahkan kami sudah bagaikan satu keluarga sejak dulu dan hubungan baik tersebut hingga kini masih terus berlanjut.

ket,foto: makan bersama teman teman di jakarta/dokpri
ket,foto: makan bersama teman teman di jakarta/dokpri
Menjadi Sahabat Orang Banyak

Satu satunya yang kami banggakan dalam hidup ini adalah kami bisa merajut hubungan persahabatan dengan beragam suku yang tersebar di seluruh nusantara ini.

Hubungan baik tersebut terus berlangsung sejak dulu hingga kini terus berlanjut. Saking merasa akrab, banyak yang memanggil kami "Ayah dan Bunda".

Kalau panggilan "Bapak" atau "Ibu" adalah merupakan panggilan yang sesuai tata krama secara umum. Tapi kalau orang sudah berkenan memanggil kita dengan sebutan: "Opa" dan "Oma" atau "Ayah dan Bunda" maupun "Mamanda", ata kalau di NTT kami dipanggil "papa dan mama", hal ini bagi saya adalah makna bahwa  hubungan batin kami sudah mendalam.

ket.foto: Kenangan di Palangkaraya./dokpri
ket.foto: Kenangan di Palangkaraya./dokpri
Bukan karena gila hormat melainkan ada perasaan damai dan tercipta suasana rasa kekeluargaan yang tidak dapat dijelaskan dalam kata kata.

Karena itu, bila orang sibuk mendiskusikan tentang "double minoritas" ataupun "minoritas ganda" sejujurnya, saya dan istri, sama sekali tidak pernah merasa dibedakan dalam berinteraksi dengan berbagai komunitas yang berbeda asal muasal, budaya, dan agama.

Hal inilah yang selalu  kami syukuri. Terlebih lagi putra kami Irmansyah, Irwan, dan Irvianti Effendi serta cucu-cucu kami semuanya membuka hati untuk bersahabat tanpa membedakan suku,budaya, dan agama.

ket.foto: dengan berbagai suku bangsa yang berbeda di australia./dokpri
ket.foto: dengan berbagai suku bangsa yang berbeda di australia./dokpri
Tulisan ini ditulis berdasarkan pengalaman hidup pribadi kami berdua. Dengan harapan akan ada manfaatnya bagi orang lain agar memahami, bahwa keterbukaan hati kita adalah jembatan yang mampu mempertautkan jurang pemisah.

Tjiptadinata Effendi

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun