Peran penting dan keterlibatan kaum perempuan tak hanya berhenti pada saat perjuangan kemerdekaan. Di saat penyusunan negara dan masyarakat mustahil tak menyertakan keterlibatan kaum perempuan secara akitf, ditulisnya dengan menggelora,
...."Wanita Indonesia, kewajibanmoe telah terang! Sekarang, ikoetlah serta moetlak dalam oesaha menjelamatkan Repoeblik, dan nanti jika Repoeblik telah selamat, ikoetlah serta moetlak dalam oesaha menjusun negara nasional....Jangan ketinggalan poela nanti dalam oesaha menjoesoen masjarakat keadilan sosial. Di dalam masjarakat keadilan sosial dan kesejahteraan sosiallah engkaoe nanti menjadi wanita yang merdeka..." (Sarinah).
Walau diungkapkan dalam ekspresi bombastis dan propagandais, Soekarno menyusun sebuah teori tentang gerakan perempuan melalui pendekatan sejarah dan pemikiran tentang revolusi yang tumbuh di Eropa sebagai antitesis terhadap penindasan kapitalisme, teokrasi dan borjuisme. Dengan berjejak pada teori Lewis, H., Morgan, dan Bachofen, Soekarno memahami evolusi keterbelakangan perempuan bukan karena kodrat alam melaikan terbentuk dalam sejarah perkembangan cara produksi masyarakat (Rahayu, 2013).
Soekarno juga mengisyaratkan bahwa gerakan perempuan berkembang dalam tahapan sejarah dimulai dari paguyuban atau kelompok perempuan yag berpikir menjadi pendamping sempurna suami kemudian berkembang pada gerakan feminisme yang mengarah pada persamaan hak dan paada akhirnya menuju pergerakan sosial di mana kaum laki-laki dan perempuan setara, merdeka dan sejahtera.
Cara pandang Soekarno ini agaknya memiliki kemiripan dan relevan dengan gerakan feminis yang diawali pada abad 18-20 yng dimulai dengan Gelombang Pertama yaitu lahirnya gerakan feminisme yang dipengaruhi pemikiran modernisme, yang kemudian diikuti Gelombang Kedua di tahun 1960-1970-an yang memasukan problem perempuan ke dalam ranah ilmu pengetahuan termasuk dirumuskan musuh penindas perempuan adalah sistem patriarki yang menjelma dalam kapitalisme, dan pada akhirnya diikuti Gelombang Ketiga yaitu penggugatan terhadap dominasi ras yang basis analisisnya isu-isu perlawanan dan gerakan multikultural.
Sesungguhnyalah, Soekarno telah turut andil meletakkan sebuah asumsi bahwa perempuan harus dibebaskan dari perbedaan fisiknya dengan lelaki. Harus disadari bahwa perbedaannya itu hayalah untuk memenuhi kodrat manusia untuk berketurunan dan "perbedaan" itu bukan alasan untuk meligitimasi diskriminasi terhadap perempuan****
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H