"Tidak, Pak. Kami di sini begini sudah. Urusan masak itu laki-perempuan ikut semua," kata salah seorang bapak, lelaki muda yang tampak cerdas oleh matanya yang memancarkan semangat.
"Ah, yang benar saja. Berarti bapak boleh masuk ke loteng ume bubu juga?" Saya masih belum bisa percaya.
"Bisa, Pak?"
"Eh, kan ini istana perempuan. Di tempat lain tidak boleh."
Soal ume bubu, baca "Bagian-1" artikel ini.
"Makanya kami kalau ke tempat lain heran, laki-laki tidak ikut masuk dapur," jawab mereka.
"Begitu ya? Saya boleh masuk ke ume bubu, Mama?"
"Bisa, Pak," jawab ibu yang tampaknya pemilik rumah. Ia lantas minta suaminya ambilkan senter dan temani saya ke dalam ume bubu.
Saya tidak ceritakan lebih jauh soal ume bubu di sini. Jadi kita loncati saja ke bagian saya dipersilakan masuk ke ruang makan. Di situ, pada sejumlah baskom, beberapa jenis pangan lokal yang sudah dimasak menunggu dibawa ke kantor desa, tempat festival malam nanti.
Saya sudah kenal bahan pangan di meja itu, meski umumnya masih berupa tetumbuhan dan bahan mentah.
Ada beragam jenis keladi (putih dan ungu), sejumlah Dioscorea (uwi), dan 'pisang tanah'. Tetapi agar mereka senang, saya berpura-pura bertanya dengan nada penasaran yang dibuat-buat. Ini teknik khas saya untuk memancing orang bersemangat menceritakan apa yang dia tahu.