Mohon tunggu...
AKHMAD FAUZI
AKHMAD FAUZI Mohon Tunggu... Guru - Ada yang sedikit membanggakan saya sebagai "anak pelosok", yaitu ketiga bersama pak JK (Jusuf Kalla) menerbitkan buku keroyokan dengan judul "36 Kompasianer Merajut Indonesia". Saya bersama istri dan ketiga putri saya, memasuki akhir usia 40an ini kian kuat semangatnya untuk berbagi atas wawasan dan kebaikan. Tentu, fokus berbagi saya lebih besar porsinya untuk siswa. Dalam idealisme saya sebagai guru, saya memimpikan kemerdekaan guru yang sebenarnya, baik guru sebagai profesi, guru sebagai aparatur negara, guru sebagai makhluk sosial.

-----Ingin tahu, agar tahu kalau masih belum tahu----- KLIK : 1. bermututigaputri.guru-indonesia.net 2. www.titik0km.com

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Artikel Utama

[Kartini RTC] Surat Untuk Kartini-Kartiniku

20 April 2015   14:45 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:53 50
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

“Anak yang telah ditelantarkan, meninggal satu per satu, ketika ia sibuk menimbun amal dan wibawa tanpa mau lagi memperhatikan bagaimana nasib keluraga…”.

“Amal dan wibawa apa yang ia timbun?”.

Menghilang ia, tiba-tiba.

Berdatangan selanjutnya, hantaran hidangan makan malam nan lezat tiada kira, gratis! Hanya butuh ditukar dengan idealisme papa. Aku bentak, Nak! Seketika langir memerah mengaum dan lenyap!

Datang lagi berombongan manusia-manusia gairah, dengan berbagai macam proposal dan makalah. Berkhutbah lengkap dengan alibi dan fakta teori. Aku bengong, Nak. Pamitlah ia sembari bergumam, “Payah, ini bukan orang yang kita cari. Hidupnya hanya tertimbun khayalan Tuhan…”. Ingin rasanya papa mengambil barang apa saja untuk dihantamkan dipantat mereka. Nyatanya, papa lebih menghendaki melepas mereka dengan do’a-do’a.

Terus berdatangan, tanpa henti meramaikan malam yang sunyi. Dan terus itu pula hentakan hati papa saling jual beli makna.

Menjelang puncak malam, aku mendenger alunan gending geguritan dengan syair-syair kehidupan. Mengiringi sosok anggun teduh dipandang mata jiwa.

Bersimpuh iya sekira lima langkah di depan papa. Semerbak mewangi segera menyentuh penciuman papa. Sejuk, temaram, tetapi cerah, dan lapang rasa. Ruangan yang hanya cukup untuk satu dua manusia ini, kini banjir mata-mata manusia. Wajah-wajah yang tidak terlihat nuansa gelisah. Terus melantunkan dzikir tanda proklamasi kedhoifan diri.

Sosok itu tenang dengan terus memandang papa. “Ah, mungkin ia mengingankan aku yang mendekat...”. Belum usai bisik papa, sosok perempuan itu meletakkan telunjuk di bibirnya. Aku di suruh diam, Nak, tetap di tempat.

“Nikmat melihat gayamu berdiskusi, Nak. Lebat dengan falsafah-falsafah. Terima kasih, Aku tidak salah…”.

Belum sempat papa menafsir kata-kata itu, iapun menghilang…

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun