Komunikasi penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan, dan menghindarkan diri dari tekanan atau ketegangan (Watuliu 2015). Meskipun harus menerapkan social distancing, remaja tetap bisa saling terhubung, berkomunikasi, dan berinteraksi menggunakan perangkat elektronik yang ada. Teknologi yang semakin canggih dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk saling menguatkan dalam melewati situasi pandemi Covid-19. Komunikasi dapat dilakukan dengan orang-orang terdekat seperti keluarga dan sahabat.
3. Mencoba beradaptasi dan menerima situasi yang terjadi
Manajemen stres lain yang dapat diterapkan oleh remaja dalam menghadapi pembelajaran tatap muka pada saat pandemi Covid-19 adalah mencoba beradaptasi. Adaptasi adalah mekanisme pertahanan dengan cara menyesuaikan diri dalam mengatasi tekanan lingkungan sekitar untuk dapat bertahan pada situasi yang tidak diinginkan (Elizabeth 2021). Adaptasi yang dilakukan oleh pelajar saat pembelajaran tatap muka pada masa pandemi Covid-19 antara lain dengan memakai masker, tidak berkumpul dengan sesama, dan menjaga kebersihan, dan menjaga jarak.
4. Memberikan self reward kepada diri sendiri
 Manajemen stres dapat dilakukan dengan cara memberikan reward atau penghargaan kepada diri sendiri atas segala usaha atau pencapaian yang telah dilakukan. Menghadapi pembelajaran tatap muka pada saat pandemi Covid-19 bukanlah hal yang mudah, banyak remaja yang dihantui dengan rasa cemas dan takut yang berakibat pada konsentrasi belajar remaja. Oleh karena itu, memberikan reward kepada diri sendiri sangatlah penting, hal ini menandakan bahwa dirinya sanggup untuk bertahan di masa-masa seperti ini. Reward atau penghargaan yang bisa diberikan yaitu dengan cara me time (menghabiskan waktu untuk diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang disukai) seperti nonton film, memasak, melukis. Selain itu, membeli barang atau makanan yang disukai. Namun, self reward ini jangan dijadikan alasan untuk melakukan perilaku yang konsumtif, jadikan self reward ini sebagai pemacu semangat untuk tetap belajar lebih giat.
Semua orang, terutama para remaja, tentunya tidak ada yang siap dalam menghadapi pandemi yang datang secara tiba-tiba, namun pada akhirnya semua harus tetap berdamai dengan cara menerima keadaan yang terjadi saat ini. Situasi yang ada dapat diterima dengan lapang dada apabila kita dapat melihat sisi positif dari adanya pandemi, seperti waktu bersama keluarga yang menjadi lebih banyak karena adanya kebijakan pembelajaran daring dan work from home yang dikeluarkan pemerintah. Maka dari itu, diharapkan para remaja dapat mengkomunikasikan perasaannya kepada orang lain, baik kepada orang tua maupun saudara. Orang tua juga diharapkan dapat memberikan perhatian lebih pada anak remajanya, seperti lebih sering mengajak berbicara atau menghabiskan waktu melakukan kegiatan bersama di rumah. Hal tersebut akan membuat remaja merasa diperhatikan dan tidak merasa menghadapi situasi sulit ini sendirian. Selain waktu bersama keluarga lebih banyak, sisi positif dari adanya pandemi ialah mengajarkan kita dasar-dasar menjaga kesehatan, seperti rajin mencuci tangan, berolahraga minimal dua kali sehari, serta makan makanan yang bergizi.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H