Mohon tunggu...
T.H. Salengke
T.H. Salengke Mohon Tunggu... Petani - Pecinta aksara

Ora et Labora

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kenangan Saat Bersama Pak Ali Alatas

12 November 2017   17:43 Diperbarui: 12 November 2017   19:54 1878
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto: gettyimages.com

Hari ini, tiba-tiba saya ingat sebuah nama yang pernah berkibar di Indonesia dan bahkan dunia internasional. Dialah Ali Alatas, diplomat hebat yang pernah dimiliki oleh Ibu Pertiwi. Sikap dan perannya dalam menciptakan keamanan dunia dapat dicermati dari tiga bukunya: A Voice for Peace, A Voice for a Just Peace, dan buku The Pebble in the Shoe: The Diplomatic Struggle for East Timor.

Saat berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XI dan KTT Asia Timur di Kuala Lumpur, Malaysia, tahun 2005, Pak Ali Alatas hadir sebagai anggota Eminent Person Group (EPG) ASEAN. Saat itu, saya bertugas sebagai koresponden luar negeri TEMPO untuk wilayah Malaysia, ikut serta meliput jalannya perhelatan akbar tersebut bersama sejumlah awak media nasional dan internasional lainnya.

Pada acara yang berlangsung selama sepekan itu, semua delegasi terutama insan media tentu memiliki kesibukan masing-masing, harus cekatan dan disiplin dengan jadwal yang berlangung termasuk jadwal wawancara khusus yang ter-schedule rapi dengan para pemimpin negara Asia dan Menteri Luar Negerinya serta tokoh EPG ASEAN, termasuk Menlu Amerika Serikat dan Presiden Rusia yang hadir sebagai tamu khusus. Memang untuk wawancara khusus, perlu prosedur dan melalui protokoler yang super ketat.

**

Pengalaman pribadi saat minta untuk wawancara khusus dengan Pak Ali Alatas, beliau langsung bersedia tanpa ikut prosedur melalui panitia. Hal itu terjadi di sela-sela berlangsungnya perhelatan akbar itu. Ceritanya, saat pembukaan dan peresmian East Asia Business Exhibition (EABEX), di Kuala Lumpur Convention Center (KLCC) yang banyak dihadiri oleh para delegasi dan wartawan dari berbagai negara.

Saya berpapasan dengan Pak Ali Alatas yang sedang jalan dengan asisten pribadinya. Saya salami beliau dan memperkenalkan diri serta media yang saya wakili. Saat itu juga saya sampaikan hasrat untuk mewawancarai beliau dan sekaligus meminta kesediaan beliau.

"Anda ingin wawancara tentang apa? "tanya Pak Ali. Dengan tegas dan yakin saya jawab seputar peran EPG dan ASEAN Charter. Di KTT ASEAN XI, ASEAN Charter sedang dibahas untuk dirampungkan pada KTT ASEAN XII yang dihelat di Cebu, Filipina. "Iya langsung saja wawancara. Yang gampang-gampang saja biar enak menjawabnya. Kita cari tempat duduk agar wartawan lain tidak ikut nimbrung," ujar beliau sambil tersenyum.

Ketua Dewan Penasehat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu ternyata merespon saya dengan sangat bersahaja dan ramah. Padahal, itu adalah kesempatan pertama (dan ternyata menjadi pertemuan terakhir) saya dengan sosok negosiator yang terkenal handal di meja perundingan. Beliau berbicara panjang lebar tentang peran EPG dalam komunitas ASEAN dan seberapa pentingnya ASEAN Charter.

Seusai wawancara, sempat mengabadikan pertemuan itu dengan foto bersama beliau. "Iya sudah, nanti malam kita bertemu lagi di acara makan malam dengan Bapak Presiden dan semua delegasi Indonesia lainnya." Kata Pak Ali Alatas.

**

Setelah itu, saya perlu melakukan pertemuan dengan Ketua EPG yang waktu itu disandang oleh Tan Sri Musa Hitam dan langsung naik taksi bersama rekan saya Mas Yudi (yang juga dari TEMPO). Kami berdua menuju rumah kediaman Tan Sri Musa Hitam di Bukit Tunku, Kuala Lumpur. Ketua EPG ASEAN adalah mantan Deputi Perdana Menteri Malaysia era Mahathir Mohamad. Di sana kami diterima dengan ramah dan santai. Setelah mengabadikan pertemuan itu dengan foto bersama, kami meluncur untuk menghadiri acara makan malam bersama semua delegasi Indonesia di salah satu hotel terkemuka di Kuala Lumpur.

**

Sebelum acara makan malam, Presiden SBY  mengadakan jumpa pers khusus dengan para wartawan Indonesia. Pak Ali Alatas tak ketinggalan mendampingi Presiden bersama beberapa menteri kabinet lainnya. Kalau yang lain terlihat santai, Pak Ali Alatas tampak sibuk mencatat setiap kata-kata Presiden. Tak kalah sibuk dengan puluhan wartawan yang hadir saat itu.

Di acara makan malam, saya kembali menyapa Pak Ali Alatas karena saat itu, saya sedang antri untuk mengambil makanan. Ternyata yang antri dibelakang saya adalah Pak Ali. Tentu saya persilakan beliau untuk maju kedepan saya dengan maksud menghormati orang yang lebih tua. Namun beliau menolaknya dengan begitu ramah dan bersahaja.

"Silakan saja duluan nak. Yang duluan datang, ya dia berhak di depan dong. Apalagi anak muda nggak boleh di belakang, harus selalu maju ke depan. Kalau orang tua nggak boleh sembarangan makan. Makanya saya mahu lihat-lihat dulu, maklum mesin tua," guraunya sambil memegang dan mengelus pundak saya.

Bagi saya, tak berlebihan atau sekadar pemanis bibir kalau pengakuan terhadap beliau adalah tokoh berjiwa besar yang handal. Dunia mengakui peran penting beliau dan pada tahun 1996, dinominasikan menjadi Sekjen PBB oleh sejumlah Negara Asia.

Dan tak berlebihan pula tentunya  kalau beliau mendapat penghargaan yang layak dan dimakamkan secara militer di Kalibata. Selamat jalan Pak Ali Alatas. Di dunia ditempatkan bersama pahlawan bangsa, dan semoga di akhirat mendapat tempat Bersama hamba-hamba yang diridhai-Nya.

Kini peran ASEAN kembali diuji dengan kasus kemanusiaan yang dialami oleh kaum Rohingya di Rakhine, Myanmar. Kasus ini menguji kepekaan dan tindakan nyata semua pihak seperti PBB, OKI, ASEAN, NGO, dan siapa saja yang merasa terpanggil atas nama kemanusiaan.

Semoga teladanmu menjadi bekal bagi kami mempersembahkan karya untuk negeri dan bangsa tercinta, Indonesia. Tulisan ini pernah saya tulis di hari meninggalnya Ali Alatas (11 Desember 2008) dan saya muat di Buletin KJRI Johor Bahru pada tahun yang sama.(*)

Sekadar berbagi di akhir pekan.

KL: 12112017

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun