Mohon tunggu...
Teti Taryani
Teti Taryani Mohon Tunggu... Guru - Guru

Guru yang suka menulis. Author novel: Rembulan Merindu, Gerai Kasih, Dalam Bingkai Pusaran Cinta. Kumcer: Amplop buat Ibu, Meramu Cinta, Ilalang di Padang Tandus. Penelitian: Praktik Kerja Industri dalam Pendidikan Sistem Ganda. Kumpulan fikmin Sunda: Batok Bulu Eusi Madu, Kicimpring Bengras.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Benarkah Asal Ceplos?

23 Oktober 2022   21:45 Diperbarui: 23 Oktober 2022   21:50 266
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Diary. Sumber ilustrasi: PEXELS/Markus Winkler

"Kok di warung ini enggak ada mainan?" gumam anak kecil itu dengan nada kecewa.

"Iya, Dek, di sini mah jual keperluan dapur. Buat masak,"

Mas Warung menanggapi dengan ramah.

"Lha, ini ada sabun, ada sandal jepit. Memang itu buat dimasak?"

Kami tertawa mendengarnya.

Sepertinya hal itu terlihat sepele. Hanya kelucuan seorang anak. Padahal bisa jadi anak itu memiliki kemampuan berpikir kritis. Dia ingin membuktikan kalau perkataan Mas Warung tidak faktual dan tidak sinkron dengan bukti yang dia dapatkan.

Bukankah kita mendidik agar anak berkata jujur dan berbicara sesuai fakta? Karena itulah, saat anak menemukan ketidaksesuaian, pikiran kritisnya langsung berkontraksi. Bibit-bibit berkata jujur sesuai fakta sudah tertanam di dalam dirinya.

Lain hari, Kakang cucuku, pulang dari masjid sehabis salat isya. Kedatangannya kusambut dengan handuk karena gerimis membasahi tubuhnya.

"Nin, apa perempuan salatnya boleh nanti-nanti? Kalau habis azan, enggak usah langsung salat? Bisa nantiiii... salatnya malem-malem?"

"Ya enggak dong. Perempuan laki-laki sama saja, salatnya harus di awal waktu. Habis denger azan, langsung salat," jawabku.

"Kok Enin belum salat? Tadi Kakang ke masjid, Enin depan laptop. Sekarang Kakang pulang, Enin masih di laptop."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun