Satu sama lain saling berkaitan tetapi punya jalannya masing-masing. Begitu kira-kira gambaran untuk ketiga poin antara film sejarah, bioskop dan tradisi (budaya) masyarakat Cianjur di atas.
Tahukah kalau di Cianjur tidak ada bioskop?
Sama halnya seperti wilayah tetangga kota/kabupaten Sukabumi, Cianjur yang memiliki sebutan kota santri, nyantri dan agamis ini memang memiliki dua sisi yang bertolak belakang mengenai sarana hiburan layar lebar.
Antara manfaat dan mudharat adanya bioskop, mana yang lebih besar, begitulah mungkin perumpamaan perkiraan yang jadi pertimbangannya. Seolah masih pro-kontra.
Padahal jika flashback ke masa kecil saya, di Cianjur ini meski masih skala sederhana (untuk ukuran kala itu dibanding di kota lainnya) sudah ada beberapa buah bioskop yang sangat digemari masyarakat pada jamannya.Â
Sebut saja bioskop Sinar, Century, terus Dunia Baru, Popsi, dan sempat dengar ada bioskop  Pusaka dan Plasa. Tapi semua itu kini hanya tinggal kenangan. Sinar dan Century bangunannya sih masih ada, hanya peruntukannya sudah beralih fungsi. Ada yang jadi lokasi main biliard, sarana bisnis pertokoan, jual beli dan sebagainya.
Mungkin kurang lebih 40 tahun sudah Cianjur berjalan dengan segala kelebihan dan kekurangannya tanpa didampingi sarana bioskop sebagai tempat hiburan.
Lalu bagaimana sikap masyarakatnya?
Bagi masyarakat angkatan (seusia) saya, mungkin tidak mengapa. Terbiasa dengan kondisi antara ada dan tiada bioskop, maksudnya.
Tapi bagaimana dengan gejolak anak muda alias generasi milenial jaman now? Yakin gak pengen ada bioskop di Cianjur?