Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... ASN - Pegawai Negeri Sipil

Pro Deo et Patria

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Pilihan

Ini 4 Pertimbangan dalam Menentukan Pilihan Liburan ke Ketinggian Siosar - Kacinambun Highland

27 Desember 2020   17:05 Diperbarui: 27 Desember 2020   17:29 1056
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Panorama awan di kala senja di Siosar (Dokpri)

Sudah barang tentu, dengan ketinggian 1490-1562 meter di atas permukaan laut, menempatkan kawasan ini menjadi salah satu tempat tertinggi di Kabupaten Karo. Panorama pemandangan yang tersaji juga menawan, terutama saat matahari terbit dan matahari terbenam.

Namun, bukan seperti di laut, arak-arakan lapisan awan yang tampak berada di bawah kaki saat pagi hari, dan siluet awan menyaput langit saat matahari akan segera tenggelam pada sore hari, adalah sedikit dari berbagai keindahan alam lainnya yang dapat disaksikan dari tempat ini.

Panorama awan di kala senja di Siosar (Dokpri)
Panorama awan di kala senja di Siosar (Dokpri)
Pemandangan Kacinambun Highland kala senja (Dokpri)
Pemandangan Kacinambun Highland kala senja (Dokpri)
Dari ketinggian di Kacinambun Highland, Siosar, kita bisa melihat beberapa bukit dan gunung yang ada di Tanah Karo, yakni Gunung api Sinabung, Gunung api Sibayak, Deleng Sibuaten (puncak tertinggi) dan Bukit Sipiso-piso.

 

2. Di sana ada semangat baru untuk bangkit dari reruntuhan

Masyarakat Siosar adalah kesatuan masyarakat adat yang eksodus dari beberapa desa yang dulunya terletak di kaki Gunung Sinabung. Kini desa-desa itu, Simacem, Bekerah, dan Sukameriah, telah hilang diselimuti debu tanah vulkanik yang datangnya dari dalam perut bumi melalui kawah Gunung Sinabung.

Simacem, Bekerah, dan Sukameriah, ketiga desa tersebut, seolah menjadi benteng dari terjangan abu vulkanik yang panas, beserta lava pijar yang membakar setiap benda yang dilaluinya, maupun benteng atas lahar dingin yang menyapu segala hal yang menghalangi jalur alirannya.

Ketiga desa ini kini nyaris menjadi rata dengan tanah. Bila masih ada tersisa tanda-tanda yang menunjukkan kalau dulunya itu adalah sebuah desa, mungkin hanya beberapa rumah dengan kerangka-kerangka yang telah lapuk dan menyiratkan kepiluan, sunyi.

Namun, sejak direlokasi ke Siosar, masyarakat pengungsi dampak erupsi Gunung Sinabung ini, mulai bangkit pelan-pelan. Mereka beradaptasi dengan alam lingkungan tempat tinggalnya yang baru. Banyak yang menanam kopi sebagai komoditi unggulan sekaligus menandai semangat baru untuk bangkit dari reruntuhan, menuju hari depan penuh harapan.

Petani kopi Siosar (Dokpri)
Petani kopi Siosar (Dokpri)
3. Di sana ada toleransi dan kerukunan

Di kawasan relokasi Siosar ini memang berdiri beberapa rumah ibadah, baik gereja untuk Protestan, Katolik, maupun Mesjid untuk umat muslim. Namun, simbol toleransi dan kerukunan itu bukan sebatas rumah ibadah yang berdiri berdekatan karena memang juga ada umat pemeluknya dari ketiga desa yang telah tercerabut dari tempat asalnya itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun