Mohon tunggu...
Teopilus Tarigan
Teopilus Tarigan Mohon Tunggu... ASN - Pegawai Negeri Sipil

Pro Deo et Patria

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Tumbukan Lenting Sempurna Pariwisata, yang Sepi yang Dicari

16 Agustus 2020   16:54 Diperbarui: 17 Agustus 2020   11:13 479
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Kolam pemandian sepi serasa milik sendiri| Dokumentasi pribadi

Bila memang demikian halnya, maka benar adanya sebagaimana pendapat presiden Jokowi, bahwa di momen pandemi ini, dimana banyak negara maju mengalami kemunduran, kita perlu membajak kesempatan untuk maju. 

Sebagaimana koefisien restitusi bernilai 1, karena kecepatan relatif setelah dan sebelum tumbukan besarnya sama pada tumbukan lenting sempurna, momentum menarik dalam hal ini adalah adanya redistribusi pendapatan antar pelaku dalam bidang pariwisata.

Kalau analogi ini keliru, barangkali itu adalah bukti bahwa artikel ini bukan tulisan ilmiah. Kalau analogi ini ada benarnya, kita juga tidak kehilangan apa-apa, walau juga hanya mendapatkan sedikit. Saya sendiri, merasa kalau berjalan-jalan ke tempat yang sepi pada saat ini adalah pilihan yang paling aman, bila harus berwisata.

Lagi pula ada baiknya, bagi para pelancong yang bisa menahan diri dan bergeser pemahamannya, melancong ke tempat sepi atau makan di rumah makan sepi ada juga baiknya. 

Kita jadi bisa merasa sedang berendam di fasilitas air panas pada resor milik sendiri, atau menjadi tamu istimewa dengan pelayanan penuh pada sebuah restoran atau rumah makan dengan pelayanan pribadi.

Mandi di kolam air panas sepi| Dokumentasi pribadi
Mandi di kolam air panas sepi| Dokumentasi pribadi
Kolam pemandian sepi serasa milik sendiri| Dokumentasi pribadi
Kolam pemandian sepi serasa milik sendiri| Dokumentasi pribadi
Mereka, para pelaku pariwisata itu sendiri, membutuhkan dukungan massa dan kecepatan dari kita, yang memungkinkan mereka bergerak dan menemukan momentumnya sendiri. Jangan biarkan mereka mati, sebab tidak ada batalyon yang lebih kuat dari salah satu prajuritnya yang paling lemah.

Menurutku, seharusnya seperti itu.

Referensi: kelaspintar.id

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun