Mohon tunggu...
Tawakkul Shabru
Tawakkul Shabru Mohon Tunggu... Profesional -

Dear Kompasianers, mari bersama wujudkan Indonesia lebih maju! –Exemplary Reader Award, 1993. –West Sumatera Indonesia Tourism Ambassador, 2003.–The originator of Asosiasi Duta Wisata Indonesia (ADWINDO). –Founder of Salam Perikanan and Komunitas Cinta Lingkungan. –Italian Government Scholarships Award, 2007.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sekeping Cerita yang Belum Usai

18 Agustus 2017   22:45 Diperbarui: 18 Agustus 2017   22:52 442
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Apakah yang sudah anda berikan untuk Indonesia?"

Sebuah pertanyaan menusuk dan tajam. Ia menyerang, butuh keberanian untuk menjawabnya. Laman Kompasiana pun segera dipenuhi beragam tulisan karya para Kompasioner pemberani yang berusaha menjawab pertanyaan tersebut. Bahkan semakin seru, Kompasiana mengadakan even menulis berhadiah tentang hal ini.

Jadi, apa yang sudah anda berikan untuk Indonesia?

Apa ya? Seorang pekerja swasta sampai merenung memikirkan jawaban dari pertanyaan ini. Ia menuliskan renungannya, bahwa selama ini banyak sekali tuntutan telah diberikan kepada pemerintah, belum lagi kritikan. Tetapi apakah kita  sudah menjalankan kewajiban sebagai warga negara? Apakah kita pernah memberikan solusi alternatif? Apakah kita pernah berbagi ilmu? Apakah kita sudah membayar pajak? tulisnya.

Seorang guru honorer yang bersemangat menjawab dengan sengit dalam artikelnya di Kompasiana bahwa bukankah kegiatannya mengajar di Aceh Barat adalah persembahannya untuk Indonesia?. Begitu pula jawaban dari seorang Instruktur latihan kerja di provinsi Nusa Tenggara Timur yang berbagi kisah perjuangan. Ia bahagia menyaksikan siswa hasil didiknya telah mampu berdikari, bahkan telah membentuk kelompok usaha. 

Seorang Ibu Rumah Tangga juga tak mau ketinggalan. Ia menulis bahwa keinginan untuk melakukan banyak hal yang bermanfaat (bagi bangsa dan negara) terkadang sedemikian kuat.Namun ia menyadari bahwa setiap diri memiliki kapasitas dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Ketika seseorang belum bisa melakukan banyak hal untuk bangsa, maka tidak ada salahnya untuk tetap melakukan hal-hal kecil dalam jangkauan kita. Maka sebagai perempuan biasa yang berkutat dalam ruang rumah tangga ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak kehilangan jati diri sebagai perempuan Indonesia. Bukankah semua hal berawal dari hal terkecil? demikian jawabnya. 

Apa yang sudah anda berikan untuk Indonesia?  Versi Saya.

Indonesia sayang,

Walau aku tak mengharapkan balasan, namun selalu.. apa yang sudah kuberikan padamu, kemudian kembali lagi kepadaku. Segala ketulusan, keikhlasan, perjuangan, kelembutan, semangat, kegigihan, keberanian, kebahagiaan, air mata. Semuanya kembali lagi kepadaku dan membuatku menjadi lebih kuat. 

Aku masih ingat betapa beratnya burung Garudamu itu dulu saat pertama kalinya ia berada di pundakku. Sungguh berat bagiku hingga membuatku tertatih-tatih. Tapi bukankah kau tahu, aku tetap dan terus langkahkan kakiku? Meskipun satu demi satu, ku jaga selalu Garudamu. Aku bahagia membawa beban itu.

Sulit untuk menghitung sudah berapa banyak air mata yang tumpah saat daku menatap merah putihmu yang berkibar-kibar hingga di negeri orang. Aku suka menatap merah putih itu ada di mana-mana dan tanpa terasa air mataku menetes. Deras.

Aku tak tahu sungguh apakah ini yang disebut cinta? yang kutahu, telah kuberikan segala kemampuanku untuk membangunmu lebih maju. Segalanya, bahkan sampai melupakan kepentingan diriku sendiri. Tak hitung kesedihan dan nasehat yang datang kepadaku di masa lalu karena berjuang untukmu. Dan di masa itu, aku selalu bisa tersenyum dan menahan kepedihan itu untuk diriku sendiri. Lalu mengapa sekarang aku harus menangis?

Jika kau bertanya mengapa aku bertahan pada rasa kasihku padamu, itu karena kebahagiaanmu adalah juga kebahagiaanku. Kepedihanmu adalah kepedihanku. Deritamu adalah deritaku. Kesengsaraanmu adalah kesengsaraanku. Karena itu aku berjuang, senantiasa berupaya untuk berbuat baik bagi segala lapisan masyarakatmu. Bagaimana aku akan menghentikannya?  ini adalah panggilan jiwaku. Deritaku.

Indonesia sayang...

Aku tahu kau tak selalu menghendaki baktiku untukmu. Kau tak selalu menghendaki perjuanganku. Masih banyak putera puteri bangsa yang lebih kokoh dan tegar berdiri untukmu dibanding aku. Mereka menyumbang lebih banyak untuk kemajuanmu. Tapi itu justru membuatku bahagia. Kehadiran mereka membuatku tidak merasa sendirian lagi berjuang untukmu. Kehadiran mereka membuatku percaya bahwa masa depan gemilang terbentang di hadapan.

Indonesia sayang...

Meski jejak perjuanganku untukmu suatu saat nanti akan menghilang dari pusaran zaman,

aku tahu, seperti halnya aku, kau pula akan selalu mengingatku. 

Di hatimu. 

Perjuangan ini belumlah usai. Selamat ulang tahun, negaraku. 

18 Agustus 2017.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun