Mohon tunggu...
Taufiq Sentana
Taufiq Sentana Mohon Tunggu... Guru - Pendidikan dan sosial budaya
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Praktisi pendidikan Islam. peneliti independen studi sosial-budaya dan kreativitas.menetap di Aceh Barat

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Praktik Self Healing dengan Menulis

21 Desember 2021   15:05 Diperbarui: 21 Desember 2021   15:18 383
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Dok. Pixabay. Anher. Kompasiana.2021

Menulis sebagai Self Healing
*****

Menulis merupakan kegiatan paling autentik yang dapat menggambarkan diri seseorang,  terutama tulisan yang spontan dan sengaja diukur untuk keperluan tertentu.

Setidaknya dalam psikologi modern,  menulis dapat menjadi sarana pembangun konsep diri.  Baik sebagai anak,  siswa, mahasiswa atau profesional. Konsep diri itu,  sering dikenal dalam cakupan: penerimaan, penghargaan dan pujian.  sering disebut juga dengan gambaran diri.

Tujuan dari self healing ini adalah untuk memahami diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan, dan membentuk pikiran positif dari apa yang telah terjadi. Self healing tidak hanya menyembuhkan pikiran dan jiwa namun juga tubuh kita, demikian kutipan dari Kompas lifestyle.

Praktik self healing dengan menulis dapat dilakukan dengan cara berikut:

1. Diagnosa kesadaran diri.  bisa dilakukan secara mandiri atau dengan pendamping.  ini untuk mengukur bagaimana kita menggambarkan diri kita.  apakah sebagai pembawa masalah,  orang gagal atau orang yang memberi dampak positif.

2. Menulis dengan bebas tentang apa saja yang hinggap di pikiran yang menyebabkan gangguan tertentu.  atau menulis lepas sesuka hati tanpa tema dan objek. hanya menulis,  sampai dapat skema tulisannya kemudian.

3. Pilih waktu tertentu,  bisa 15 menit atau dua jam perhari

4. memilih bahan bacaan yang bisa ditulis ulang kembali,  dari ungkapan bijak atau  kutipan Kalam Suci. bahan yang menggambarkan harapan terbaik dan citra positif.

5. Menulis lintasan pikiran secara bertahap,  hingga menjadi kalimat kalimat pendek yang bisa dicek kembali dan dibicarakan dengan sahabat atau pendamping.

6. Hasil tulisan itu bisa dipajang,  disimpan atau bahkan dibakar. atau mungkin suatu hari bisa dipamerkan bila memenuhi sarat usefull yang tinggi.

7. Mengkostruksi tulisan dengan objek tertentu sesuai harapan dan gambaran diri tentang problem dan solusi serta dampak dampaknya bagi kemajuan diri. Tulisan itu bisa berwujud tulisan kreatif ataupun tulisan popular. 

8. hasil tulisan tersebut mesti terjembatani secara sosial,  bisa direalisasikan secara bertahap.  diukur dengan capaian capaian kecil keseharian untuk efektifitas program jangka panjang.

Dari praktik kecil di atas,  diharapkan seseorang akan lebih terbuka secara pribadi,  menerima diri,  bersyukur,  lebih tegar, terlibat dalam interaksi sosial dengan wajar serta dapat bertanggung jawab atas diri dan masa depannya.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun