Gedung yang sekarang menjadi museum nasional ini dukung bernama Panopticon dan dibangun pada era sekitar 1870 hingga awal abad 20 dan dirancang sebagai sebuah penjara. Tidak mengherankan kalau sebagian besar bentuk interiornya masih menyisakan bentuk asli dengan ruang ruang sel penjara.
Pada pertengahan abad ke 20, atau tepatnya 1948, barulah gedung ini digunakan sebagai Museum Nasional dan pda 1975 ditetapkan sebagai warisan sejarah atau monumen nasional.
Sangat menarik sekali berkelana di dalam museum yang memiliki 3 lantai ini. Di lantai dasar saya Semit mengintip sebuah ruangan kecil yang menyimpan warisan benda-benda yang terbuat dari emas. Mirip dengan yang dipamerkan di Museo del Oro, mungkin versi mini.
Selain itu juga ada pameran bertajuk "Awera en Bakata' yang merupakan pameran karya perempuan dari suku asli yang bermukim di Kolombia yaitu suku Embera Chami. Di sini dijelaskan jika kata "Awera," memiliki makna "El camino para ser mujer," atau jalan untuk menjadi perempuan sejati.
Di bawahnya ada tulisan obituario de una travesa desde el pasado, yang bermakna obituari: sebuah perjalanan dari masa lalu.
Yang sangat berkesan adalah kutipan kata mutiara : la muerte es algo que no debemos temer porque, mientras somos, la muerte no es, y cuando la muerte es, nosotros no somos.
Kematian adalah sesuatu yang tidak perlu kita takuti karena, ketika kita ada, kematian tidak ada, dan ketika kematian ada, kita tidak ada.
Kata kata mutiara ini dikutip dari seorang filsuf Yunani Epikurus (340-270 SM).
Saya kemudian keluar dari museum sesuai arah petunjuk dan sampai di toko suvenir dan kemudian mampir sejenak di sebuah cafe. Menikmati sepotong roti dan secangkir kopi Kolombia yang nikmat.