Mohon tunggu...
Ratika Puspitasari
Ratika Puspitasari Mohon Tunggu... Administrasi - Student of life that just want to be constantly progressing

Belajar menulis dan berbagi

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

#Dirumahaja, Saatnya Membaca

29 Maret 2020   17:24 Diperbarui: 29 Maret 2020   17:25 202
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Terhitung sudah hampir seminggu ini saya menjalankan kegiatan Work From Home, sebenarnya dengan bekerja dirumah kegiatan bekerja menjadi tidak sebebas saat berada dikantor, karena memang pekerjaan yang saya lakukan sebagian besar mengharuskan saya untuk berada di kantor, sehingga ketika saya diharuskan bekerja dirumah maka setengah tugas pekerjaan saya berkurang, dan jadi sering diam tanpa aktifitas.

Nah momen dirumah saja ini saya gunakan untuk membaca dua novel yang belum sempat saya baca karena kesibukan saya sebelumnya, alhasil saya anteng sekali dirumah, bahkan waktu seperti tidak terasa karena saya bisa membagi waktu antara pekerjaan dengan kegiatan membaca buku. Ketika teman-teman saya sepertinya sudah mulai frustasi dengan kegiatan work from home, sepertinya cuma saya yang menjalaninya tanpa keluhan, well those books keep connecting me to the world even I just stay at home.

Saya bukan tipe pembaca fanatik, yang memiliki target harus membaca puluhan buku selama setahun misalnya, tetapi saya suka membaca. Selama ini saya selalu memilih buku fiksi sebagai bahan bacaan, belakangan saya tertantang untuk mencoba membaca buku nonfiksi, saya menyiapkan dua buku dengan genre memoir/ biografi sebagai teman dalam momen dirumah saja. Membaca buku biografi ternyata memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan dengan ketika saya membaca buku fiksi, ini adalah beberapa hal yang saya rasakan selama membaca buku memoir/ biografi:

Mengetahui kisah hidup dan pengalaman orang sukses.

Katanya ngobrol dengan banyak orang itu bisa nambah pengetahuan dan membuka mata kita terhadap kehidupan, apalagi kalau orang yang kita ajak ngobrol itu punya segudang pengalaman dan kisah hidup yang menjadikan dia sesukses saat ini. Nah, sebagai orang introvert dan pemalu seperti saya yang nggak gampang gitu aja sok kenal dan sok akrab sama orang, yang teman pun bisa dihitung dengan jari dan itu lagi- itu lagi, dan kayanya rasanya susah untuk tiba-tiba kenalan, meet up dan ngobrol sama orang penting layaknya temen, tapi pengen dapet ilmu dan kisah hidup orang-orang sukses, membaca buku autobiografi/ memoir jadi pilihan saya.

Setiap saya membaca buku memoir/ autobiografi, saya merasa seperti menjadi pendengar, merasakan bahwa penulis sedang menceritakan kisah hidupnya kepada saya, seperti seorang teman yang sedang curhat mengenai permasalahan hidupnya dan saya adalah pendengarnya.

Ketika saya membaca buku “Educated” saya membayangkan Tara Westover, penulis lulusan PhD Cambridge University sedang bercerita bagaimana dia dari yang awalnya tidak sekolah sampai dengan SMA tetapi dengan suksesnya mendapatkan gelar doktoralnya di Cambridge University, atau ketika saya membaca biografi penulis terkenal Haruki Murakami saya seperti mendengarkan dia bercerita dengan semangat tentang hobinya berlari. Dimana lagi saya bisa mengetahui pengalaman mereka selain dari buku memoir/ biografi yang mereka tulis.

Menghemat waktu.

Saya pernah membaca artikel tentang salah satu manfaat membaca adalah menghemat waktu dalam memaknai hidup. Buku biografi biasanya menceritakan perjalanan hidup seseorang sejak seseorang itu masih kecil sampai dengan ia menjadi besar dan terkenal, bahkan ada biografi yang menceritakan kondisi kehidupan penulis mulai dari saat orang tuanya mengandung.

Tentunya pengalaman itu ia dapatkan bukan dalam waktu seminggu- dua minggu atau sebulan- dua bulan, pengalaman itu ia dapatkan selama ia hidup, kalau penulis berusia 50 tahun ya berarti dia menuliskan kisah penting dalam hidupnya yang terjadi selama dia hidup. Sedangkan waktu yang saya butuhkan untuk membaca buku biografi adalah paling lama satu bulan artinya saya bisa mengetahui perjalanan hidup seseorang berusia 50 tahun hanya dalam waktu satu bulan.

Seru!!

Pada awalnya saya hanya berani membaca novel dengan genre fiksi, jika ada yang menyodori saya buku nonfiksi saya sudah minder duluan. Bukanya apa, tetapi saya takut buku dengan genre nonfiksi tidak sesuai dengan kemampuan saya berpikir, sehingga saya takut berhenti di tengah jalan sehingga menjadikan buku yang saya baca mubazir. Selama ini saya berfikir kalau buku-buku nonfiksi itu berat, sampai akhirnya saya memutuskan untuk tidak ada salahnya mencoba tantangan baru untuk membaca buku nonfiksi.

Ternyata membaca buku memoir/ biografi itu sama menghiburnya dengan membaca kisah fiksi, pengalaman hidup yang diceritakan oleh penulis dalam buku biografi adalah pengalaman penting dan menarik yang sudah dipilih oleh penulis untuk dituliskan kedalam bentuk buku, dan tentunya bukan pengalaman yang “b” aja.

Ada perbedaan yang sulit dijelaskan ketika saya membaca kisah dalam buku nonfiksi, dibandingkan dengan membaca kisah dalam buku fiksi. Membaca buku genre autobiografi dapat membuat saya terbawa dalam emosi penulis saat menghadapi permasalahan hidupnya, rasa cemas, rasa sedih, maupun perasaan bahagia, terlebih ketika saya menyadari bahwa kisah itu nyata dan benar terjadi dalam hidup manusia, sehingga tidak jarang saya jadi sering takjub sendiri dan berkata dalam hati “ini kisah nyata dan ini bener terjadi loh”.

Ilmu kehidupan

Saya sering mendengar kata-kata bijak bahwa pengalaman hidup adalah guru terbaik. Pengalaman hidup adalah proses pembelajaran hidup yang membentuk karakter manusia, dengan pengalaman dan berbagai persoalan yang dialami itulah manusia menjadi semakin matang dan dewasa, dan dapat berpikir secara bijak, ketika kita menghadapi persoalan berikutnya.

Membaca buku biografi membuat saya belajar dari pengalaman orang lain, saya tidak harus menghadapi persoalan tersebut, tetapi setidaknya ketika saya menghadapi persoalan yang serupa  saya memiliki bayangan mengenai apa yang harus saya lakukan dan dapat membuat saya berpikir dengan lebih bijak.


“Semakin banyak kita membaca, semakin kita banyak belajar, dan semakin kita menyadari bahwa kita tidak banyak tahu”

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun