Mohon tunggu...
Tarmidinsyah Abubakar
Tarmidinsyah Abubakar Mohon Tunggu... Politisi - Pemerhati Politik dan Sosial Berdomisili di Aceh
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Penulis adalah Pemerhati Politik dan Sosial Berdomisili di Aceh

Selanjutnya

Tutup

Politik

Sejak Awal Kekaderan Politik Joe Biden dan Barack Obama Menjauhkan Ilmu Iblis

10 November 2020   11:37 Diperbarui: 10 November 2020   13:32 239
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
businessinsider.com

Presiden Amerika Serikat terpilih Joe Biden adalah Wakil Presiden dimasa kepemimpinan presiden Barack Obama yang memimpin Amerika selama dua periode. Sebagai politisi senior ia telah mengalami banyak pengalaman dalam proses pengambilan keputusan pembuatan kebijakan publik bagi rakyat dan bangsanya.

Jika kita melihat kebelakang maka kita tidak menemukan pertentangan diantara kedua pemimpin Amerika itu. Bahkan Joe Biden sempat berkonsentrasi untuk suatu terobosan fokus pada kondisi bumi yang dikenal dengan istilah biasa saja yaitu perubahan iklim (climate change) dan kebijakan itu ternyata menjadi materi dan kebijakan global.

Hubungan presiden dan wakil presiden kita ketahui sangat harmonis. Lalu apakah kita meyakini bahwa tidak ada perbedaan sama sekali diantara keduanya? Tentu saja perbedaan-perbedaan kecil dalam persepsi masing-masing pasti terjadi tetapi karena keduanya dikenal cerdas maka perbedaan diantara mereka justru menjadi pemersatu yang hebat.

Lalu, apa yang menarik dalam kancah persaingan politik negara adikuasa itu terkait dinamika politik Democrat Party yang merupakan partai tempat nama mereka dibesarkan sebagai pemimpin politik, rakyat dan negara? Salah satu yang paling penting adalah membicarakan bagaimana sesungguhnya konsep kepemimpinan negara yang berbasis negarawan yang diperankan oleh Barack Obama sebagai mantan presiden atau pemimpin bangsa.

Kenapa panting membicarakan Barack Obama? Karena keberadaaannya sebagai kulit hitam bahkan diketahui ayahnya  Afrika tetapi ia mampu menjungkir balikkan kondisi politik Amerika yang secara sosial justru bertentangan dengan dirinya. Pada proses konvensi calon presiden dari Democrat Party ketika Obama terpilih, Joe Biden juga ikut menjadi kompetitor di awal.

Padahal dia politisi yang menjadi senator termuda diusia 29 tahun dan berkulit putih. Namun persaingan konvensi akhirnya hanya menghadapkan antara Obama dan Hillary Clinton. Tetapi kemudian Obama memilih Biden menjadi Wakil Presidennya. 

Dalam menentukan cawapres dari partai tersebut tentunya ada kesepakatan-kesepakatan kelompok tetapi mereka semua terikat dalam suatu tujuan kepemimpinan dan kekuasaan politik. Tentu saja Joe Biden adalah seseorang yang ahli dan memiliki kesabaran yang luar biasa dalam politik.

Meskipun perbedaan usia yang jauh antara Barack Obama lahir tahun 1961 dan Joe Biden lahir tahun 1942, mereka tidak pernah bicara senioritas atas duluan lahir, sebagaimana ilmu iblis. 

Oleh karena itu dalam politik dan pemerintahan Joe Biden tetap sebagai orang kepercayaan utama (alter ego) kepemimpinan Barack Obama sebagai decision maker. Ringkasnya ketika kepahaman terhadap pengelolaan negara dan kepemimpinan itu penuh maka problem konflik pasti sangat mudah diminimalisir dan dihilangkan. 

Lalu kenapa hubungan harmonis bahkan mereka saling menganggap saudara dan (two in one)? Karena kepemimpinan Barack Obama sebagai presiden yang memenuhi prinsip dan nilai-nilai demokratis dalam prilaku dan terutama bathinnya bukan sebatas mensiasati untuk mengutamakan dirinya.

Kenapa ada orang politik yang prilakunya sebatas mensiasati kehebatan dirinya, bahkan dalam memimpin menafikan wakilnya? Tentu saja ilmu kepemimpinannya masih sebatas tampilan dan gaya untuk kekuasaan yang membutuhkan pengakuan terus menerus. Tipikal pemimpin seperti ini adalah indikator pemimpin lemah karena tidak berilmu, maka kepemimpinannya pada akhirnya hanya bisa mendhalimi dan tidak adil.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun