Mohon tunggu...
Mumin Boli
Mumin Boli Mohon Tunggu... Seniman - Human Rights Activist

Hidupilah hidupmu sehidup-hidupnya.

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Menilik Eksistensi Kurikulum Merdeka

3 Juni 2022   06:53 Diperbarui: 3 Juni 2022   07:00 1080
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Perayaan Hardiknas tahun ini mengangkat tema "Pimpin Pemulihan, Bergerak untuk Merdeka Belajar". Ditengah perayaan yang setiap tahunnya dilakukan, wajah pendidikan nasional kita belum kunjung mencapai mutu yang baik. 

Ribut-ribut ditengah perayaan Hardiknas kali ini pun tak terelakkan. Implementasi "Kurikulum Merdeka" banyak disoroti para pakar dan praktisi dalam dunia pendidikan.

Meskipun banyak menuai polemik, menurut Mas Menteri Nadiem, implementasi "kurikulum merdeka" ini adalah untuk mengatasi hilangnya pembelajaran (learning loss) selama masa pandemi agar pendidikan kita  tidak semakin semakin tertinggal. 

Namun, apakah memang pendidikan kita baru tertinggal semenjak dihantam pandemi covid-19, ataukah sedari dulu mutu pendidikan kita sudah rendah? Sekiranya lewat ulasan berikut, diharapkan mampu memberikan sedikit oase untuk mencerahkan pikiran kita di tengah teriknya nestapa keadilan dan kesejahteraan!

Hasil Survei PISA

Hasil survei Programme for International Student Assessment (PISA) terakhir pada tahun 2018 yang diterbitkan pada maret 2019 lalu memotret sekelumit masalah pendidikan Indonesia. 

Dalam kategori kemampuan membaca, sains, dan matematika, skor Indonesia tergolong rendah karena berada di urutan ke-74 dari 79 negara. Indonesia konsisten berada di urutan 10 terbawah. Dari ketiga kategori kompetensi, skor Indonesia selalu berada di bawah rata-rata. Ini menunjukan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan.

Tentu kita kembali bertanya, mengapa Indonesia yang sudah berpartisipasi dalam penilaian PISA selama 18 tahun, sejak bergabung awal pada tahun 2000 tidak pernah memperoleh skor di atas rata-rata? Artinya, selama delapan belas tahun, kemampuan siswa di Indonesia dalam memahami bacaan, menghitung, atau berpikir secara ilmiah tak banyak berubah.

Menurut The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) yang mengumumkan hasil Programme for International Student Assesment (PISA) 2018 penyebab utama Indonesia selalu mendapat peringkat rendah adalah kurikulum pendidikan yang diterapkan. Perlu kita ketahui bahwa, Indonesia sudah mengalami pergantian kurikulum setidaknya sebanyak 11 kali yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan 2004, 2006, 2013 serta yang terbaru adalah "kurikulum merdeka".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun