"Ya nggak tahu ustad. Mungkin teman-temannya??"
Kembali pak ustad tersenyum simpul. Beberapa saat kemudian pak ustad menuju pintu kamar sang anak. Mengetuk pintunya tiga kali.
"Dik? Boleh buka pintunya?" kata pak ustad dari luar kamar. Pak ustad menjauhi pintu satu langkah begitu terdengar kaki digesek lantai. Pintu pun terbuka perlahan. Seorang anak laki-laki berdiri. Matanya kosong. Di tangannya tampak dua gagang sapu sudah siaga. Pak ustad tersenyum hangat. Ia mengeluarkan kartu kecil dari sakunya.
"Apa kuotamu sudah habis dik?" Kata pak ustad sembari menyodorkan kartu kecil itu. "Ambil buatmu. Itu isi kuotanya lumayan. 15 GB..."
Si anak menatap ragu. Tiba-tiba ia melempar gagang sapu ke samping. Berlari cepat menuju pas ustad. Dan memeluknya dengan sangat erat. Tangisnya bercucuran.
"Ampun pak ustad. Tolongin saya. Saya tak kuat lagi ustad..." Katanya meratap. "Saya ini sudah bosan berdebat. Tapi isi kepala saya ini selalu saja ramai pak ustad, saya jadi susah tidur pak ustad, hiks hikss..."
Pak ustad dengan haru mengelus rambutnya. Si anak lantas masuk ke kamar. Ia kembali demgan membawa handphone besarnya.
"Tablet ini buat pak ustad saja. Saya ingin mondok saja pak ustad. Biar ketagihan saya buka-buka gogel dan pisbuk hilang..."
Pak ustad menghembuskan napas. Mengucap hamdalah. Merasa lega. Si ibu memandang keduanya dengan bingung.
"Kok tumben. Anak saya tiba-tiba pengen mondok?" gumamnya. Bingung tujuh putaran kereta.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H