Teaching is an art, begitu ungkapan yang pernah saya baca dari sebuah buku yang saya sendiri sudah lupa. Karena mengajar itu adalah seni, maka proses mengajar itu bisa diimprovisasi. Kita bisa memolesnya dengan berbagai bentuk kreasi-kreasi baru. Mengemasnya dengan hal-hal yang inovatif. Mengajar tentu saja bukan sekedar mentransfer ilmu dan ketrampilan, tetapi harus memilki fungsi-fungsi lain seperti fungsi hiburan.Â
Nah, sebagai sosok seorang guru yang menganut falsafah guru yang pembelajar, saya mencoba mengembangkan sebuah cara pembelajaran yang dapat menarik minat para peserta didik untuk belajar bahasa Inggris. Karena pengalaman kita dalam proses pembelajaran bahasa Inggris di sekolah memang lebih banyak hal yang tidak menarik. Pelajaran bahasa Inggris menjadi pelajaran yang membosankan, ditakuti siswa dan sebagainya.  Realitas ini  saya temukan berbekal pengalaman mengajar selama  lebih 10 tahun.Â
Saya juga sering bersama siswa mengidentifikasi berbagai masalah yang menyebabkan kegagalan pmbelajaran bahasa Inggris di sekolah selama bertahun-tahun itu. Setelah mengidentifikasinya, tentu dilakukan langkah selanjutnya dengan menganalisis masalah --masalah itu. Dari hasil analisis ini saya menemukan berbagai faktor. Salah satu faktor utamanya adalah faktor guru. Saya berkesimpulan pada saat itu, bahwa guru sangat berperan dalam membuat sebuah pengajaran bahasa Inggris gagal di sekolah. Kegagalan siswa dalam menguasai bahasa Inggris tidak terlepas dari kegagalan guru melakukan inovasi dalam pembelajaran bahasa Inggris di sekolah.
Adalah sebuah keanehan dan sangat tidak masuk akal, kalau seorang peserta didik belajar bahasa Inggris selama 4 jam seminggu (dua kali seminggu), selama 6 tahun lamanya. Namun tidak memahami bahasa Inggris, apalagi untuk berkomunikasi baik lisan maupun tulisan. Padahal, jangka waktu pembelajaran selama 6 tahun juga bukan sebuah rentang waktu yang pendek. Idealnya, peserta didik sudah bisa berbicara cas cis cus dalam bahasa Inggris bukan ?
Seharusnya guru bisa bertanya, apakah saya sudah cukup mampu untuk mengajarkan bahasa Inggris kepada peserta didik?. Guru seharusnya merasa malu, kalau ia sebagai seorang guru bahasa Inggris, tetapi kondisinya sama saja dengan peserta didik, tidak bisa dan tidak pernah berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Pertanyaannya adalah apa yang bisa diharapkan dari seorang guru bahasa Inggris yang tidak kompeten mengajar bahasa Inggris, harus mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak didik ? Padahal, tatkala seorang guru bahasa Inggris mengajar di depan  kelas, ia harus menjadi model bagi peserta didik bukan ?
Nah, seperti kata pepatah kuno, kalau begini tarah papan, kebarat juga kan condongnya, kalau begini cara mengajar, maka melarat juga peserta didik jadinya. Maka, sekali lagi wajar, kalau peserta didik yang belajar bahasa Inggris selalu menuai kegagalan. Bahasa Inggris di satu sisi dianggap sangat perlu untuk dapat menguasai ilmu-ilmu dan informasi yang baru dan masih segar. Namun di pihak lain, bahasa Inggris masih dianggap momok yang sangat menakutkan.
Bangkit dari kesadaran itu, ketika saya pindah ke SMA Negeri 3 Banda Aceh, maka saya mulai melakukan berbagai transformasi pembelajaran bahasa Inggris. Saya mencoba merubah paradigma pembelajaran bahasa Inggris dengan memperkaya paradigma pembelajaran yang bervariasi.  Saya sangat yakin bahwa di sekolah ini saya bisa memerdekakan diri saya untuk melakukan perubahan-perubahan paradigma berfikir dan bertindak. Tentu saja, perubahan paradigma tersebut, kita harus mau bereksperimen.mau  berkreasi, berinovasi. Kuncinya adalah kita harus tumbuhkan dahulu sikap kritis. Mau mengkritisi fenomena-fenomena alam, paling tidak fenomena-fenomena  yang ada di sekitar profesi kita sendiri, yakni dunia pembelajaran yang kita geluti sehari-hari.
Mengawali masa tugas di SMA Negeri 3 yang kata banyak orang di Aceh, sebagai sebuah SMA favorit, saya ditugaskan di kelas 1. Sebuah kesempatan yang bagus untuk memulai eksperimen karena mereka adalah orang-orang yang baru memulai pembelajaran di bangku SMA saat itu. Dengan semangat yang besar untuk berkreasi dan berinovasi, saya mempersiapkan diri untuk melakukan sebuah improvisasi dalam sebuah pembelajaran bahasa Inggris. Modal awal yang saya miliki adalah sebuah keberanian untuk berinovasi dan berkreasi.Â
Saya harus berani keluar dari sebuah tradisi yang konvensional.. Meninggalkan sebuah sistem pembelajaran bahasa Inggris yang menjajalkan teori-teori. Meninggalkan kebiasaan menyuguhkan aturan-aturan bahasa yang memusingkan peserta didik. Meninggalkan kebiasaan CBSA, catat buku sampai abis yang selama ini membuat para siswa uring-uringan.