Mohon tunggu...
Syahiduz Zaman
Syahiduz Zaman Mohon Tunggu... Dosen - UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Penyuka permainan bahasa, logika dan berpikir lateral, seorang dosen dan peneliti, pemerhati masalah-masalah pendidikan, juga pengamat politik.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Menganalisis Kata "Pecat" di Dunia Sepakbola

6 Januari 2025   16:40 Diperbarui: 7 Januari 2025   06:13 68
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi kata pecat dalam sepakbola. (Sumber: PSSI)

Berita tentang pemecatan Shin Tae-yong oleh PSSI dari jabatannya sebagai pelatih Tim Nasional Indonesia menjadi topik hangat di berbagai media. Judul seperti "PSSI Pecat Shin Tae-yong" langsung menyita perhatian pembaca, memantik diskusi di media sosial, dan tentu saja, menambah daftar panjang drama sepak bola di Tanah Air. 

PSSI mengumumkan keputusan ini dengan alasan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja pelatih asal Korea Selatan tersebut, meskipun kiprahnya sempat membawa secercah harapan bagi para pendukung Garuda. Namun, kata "pecat" sendiri menjadi pusat perhatian, mengingat konotasi dan dampaknya dalam pemberitaan.

Kalau ada kata yang sering menghiasi berita olahraga, terutama sepak bola, selain "gol" dan "offside," maka "pecat" pasti masuk daftar teratas. Kata ini sudah seperti bumbu wajib dalam berita yang membahas pelatih atau manajer klub---dari liga antah-berantah hingga panggung sepak bola nasional. Tapi, apakah "pecat" ini benar-benar seburuk itu? Dan apakah penggunaannya dalam jurnalistik selalu tepat? Mari kita bedah, dengan gaya santuy, tentu saja.

"Pecat" Itu Lugas, Tapi Tidak Selalu Kejam

Bagi sebagian orang, "pecat" terdengar seperti keputusan sadis yang menutup karier seseorang dengan brutal. Namun, dalam dunia olahraga, terutama sepak bola, kata "pecat" sebenarnya sudah jadi hal yang biasa. Bahkan, pelatih-pelatih besar dunia seperti Jose Mourinho atau Thomas Tuchel mungkin sudah punya koleksi "pecat" seperti koleksi trofi.

Kenapa begitu? Karena di dunia sepak bola, hasil adalah segalanya. Kalau tim kalah terus atau target tidak tercapai, kursi pelatih jadi panas, dan kata "pecat" pun turun dari langit. Jadi, kalau kita lihat dari konteks ini, "pecat" adalah konsekuensi profesional, bukan penghinaan pribadi.

Dalam Jurnalistik, "Pecat" Itu Tepat Sasaran

Sekarang, mari kita bicara soal bahasa jurnalistik. Dalam prinsip jurnalistik, ada tiga hal utama yang harus dipertimbangkan: kejelasan, netralitas, dan ketepatan agar tidak menimbulkan interpretasi yang bias atau sensasional. Kata "pecat" memenuhi semua kriteria ini.

  1. Kejelasan: "Pecat" adalah kata yang langsung dan tidak bertele-tele. Semua orang paham maksudnya tanpa perlu membuka kamus. Dibandingkan dengan frasa seperti "mengakhiri kerja sama" atau "memberhentikan," kata "pecat" lebih cepat dicerna.

  2. Akurasi: Kalau memang keputusan diambil sepihak oleh pihak pemberi kerja, maka "pecat" adalah kata yang paling akurat. Tidak perlu berbasa-basi. Kalau PSSI mengeluarkan Shin Tae-yong tanpa diskusi panjang atau kesepakatan bersama, ya itu "pecat," bukan "perpisahan damai."

  3. Daya Tarik: Dalam jurnalistik, penggunaan kata sering kali disesuaikan dengan konteks dramatisasi yang wajar untuk memikat audiens. Tidak bisa dipungkiri, kata "pecat" punya daya tarik tersendiri. Judul berita dengan kata ini otomatis memancing klik. Coba bandingkan, mana yang lebih menggugah rasa ingin tahu: (a) "PSSI Pecat Shin Tae-yong" (b) "PSSI Mengakhiri Kerja Sama dengan Shin Tae-yong". Pilihan pertama (a) pasti lebih "wow," kan?

"Pecat" Dalam Budaya Populer

Uniknya, kata "pecat" tidak hanya hidup di dunia jurnalistik, tetapi juga sudah meresap ke budaya populer kita. Ingat adegan bos marah-marah di sinetron atau film? Pasti ujung-ujungnya ada dialog, "Kamu dipecat!" sambil melempar map ke meja. Kata ini begitu dramatis, begitu teatrikal.

Di media sosial, "pecat" juga sering digunakan secara bercanda. Ketika tim sepak bola kalah, netizen ramai-ramai meneriakkan "pecat pelatih!" walaupun mereka mungkin tidak tahu siapa nama pelatihnya. "Pecat" sudah jadi ungkapan frustrasi kolektif yang entah bagaimana terasa memuaskan.

Antara "Pecat" dan Eufemisme

Namun, ada kalanya "pecat" dianggap terlalu keras, sehingga media mencoba menggunakan kata-kata eufemistik seperti "mengakhiri kerja sama" atau "memutus kontrak." Kedengarannya lebih sopan, tapi kadang malah membingungkan. Misalnya, jika kita membaca, "PSSI mengakhiri kerja sama dengan Shin Tae-yong," orang awam mungkin bertanya-tanya, apakah ini keputusan sepihak? Atau Shin Tae-yong sendiri yang ingin pergi?

Di sinilah "pecat" unggul: tidak ada ambigu. Orang langsung tahu bahwa ini keputusan sepihak, tanpa perlu interpretasi tambahan. Dalam dunia jurnalistik yang mengutamakan kecepatan informasi, kejelasan seperti ini sangat penting.

Ketika "Pecat" Jadi Terkesan Lucu

Sebagai kata yang sering digunakan, "pecat" kadang justru menghadirkan situasi lucu, terutama di media sosial. Bayangkan ada meme yang menampilkan wajah pelatih dengan teks, "Baru kalah dua kali, netizen: Pecat aja!" atau komentar seperti, "PSSI pecat pelatih sebelum sempat mengerti nama pemainnya." Humor seperti ini menunjukkan bagaimana kata "pecat" sudah menjadi bagian dari leksikon sehari-hari kita, terutama di dunia olahraga.

"Pecat" Itu Realistis

Pada akhirnya, kata "pecat" dalam jurnalistik bukanlah sesuatu yang perlu dihindari atau dihaluskan, asalkan digunakan dengan tepat. Kata ini mewakili kenyataan bahwa dalam dunia profesional, ada keputusan sulit yang harus diambil. Dalam kasus Shin Tae-yong, penggunaan kata "pecat" sudah sesuai karena menggambarkan tindakan sepihak dari PSSI.

Sehingga, kata "pecat" tetap memenuhi kaidah objektivitas jurnalistik. "Pecat" adalah kata yang lugas, tetapi tidak selalu menggambarkan cerita lengkap di balik keputusan tersebut. Jadi, sambil menikmati berita, mari kita tetap kritis dan tidak buru-buru menghakimi siapa yang salah atau benar.

Oh, dan satu lagi: kalau Anda membaca berita soal pelatih atau manajer baru, jangan lupa catat tanggalnya. Karena di sepak bola, hari pertama kerja seseorang bisa jadi awal dari hitungan mundur menuju "pecat." Selamat menikmati dramanya!

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bahasa Selengkapnya
Lihat Bahasa Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun