"Adit berdiri saja, Bu. Adit sehat dan masih kuat berdiri."
Mendengar ucapan itu, Bu Asma merasa kalau dirinya tidak ada hari sebagai seorang guru.
***
Sudah kebiasaan setelah bel istirahat, murid laki-laki bermain sepak bola di halaman sekolah. Semua riang menendang dan berebut bola. Siang itu seperti biasanya, Adit hanya duduk di belakang gawang. Adit dilarang ikut bermain. Tugasnya hanya sebagai pengambil bola jika bola jatuh ke lubang bekas galian yang berair itu. Sekali lagi itu sudah lebih dari cukup. Meski bukan bagian dari salah satu tim yang bertanding.
"Adit, cepat ambil bola itu, jangan lama!" Agus berteriak dari tengah lapangan halaman sekolah.Â
Air lubang yang selutut membuatnya tidak bisa cepat mengambil. Dengan susah payah ia berjalan pelan dalam genangan. Setelah dapat, ia tidak langsung melempar. Sedikit ingin berlama-lama merasakan memegang bola itu. Hingga membuat semua temannya marah.Â
"Adit, cepat!" Farhan melempar sebuah batu ke lubang yang menghasilkan cipratan air yang mengenai baju juga wajahnya.Â
Adit melempar bola itu, kemudian melangkah keluar dari lubang. Membuka bajunya dan menjemur di pagar kayu. Mungkin dengan cara ini bajunya bisa kembali kering saat jam masuk sekolah nanti.Â
Permainan kembali berjalan seru. Gol demi gol lahir dari kaki-kaki kecil. Semua tertawa riang saat merayakan gol. Bak pemain kelas dunia, selalu saja ada selebrasi selepas timnya mencetak gol.
Bel pulang sekolah berbunyi. Itu saatnya Adit melangkah pulang menuju rumahnya yang terpencil. Melewati pematang sawah, kebun-kebun dan setelah menyeberang sebuah sungai, itu tanda rumahnya sudah dekat.
Dari kejauhan, Adit melihat ibunya menyortir hasil memulung ayahnya. Setengah tidak percaya, benda bulat seperti bola ia lihat. Senang bukan kepalang bocah kecil melihat benda itu. Segera berlari agar cepat mendekati ibunya.