Bahaya pemanasan global saat ini sulit dimungkiri. Cuaca ekstrem luas di berbagai belahan bumi belakangan ini, iklim tak menentu, tingginya polusi udara yang menimbulkan berbagai penyakit, dan lain sebagainya adalah contoh nyata dari efek pemanasan global itu.
Penggunaan bahan bakar fosil adalah salah satu akar pemanasan global. Maka, muncul solusi supaya manusia mulai memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) seperti: energi air, geotermal (panas bumi), biomassa, dan yang sejenis. Hanya, harapan itu sebatas mitos mengingat EBT ternyata juga punya dampak negatif.
Dampak negatif
 Selama ini, banyak orang giat mengkampanyekan keyakinan bahwa EBT itu sepenuhnya bersifat positif. Padahal, merujuk Donny Yusgiantoro (Kebijakan Energi Lingkungan, LP3ES, 2017), pemanfaatan EBT juga mengandung sejumlah masalah serius. Pertama, kegiatan geotermal berpotensi mengubah kontur permukaan tanah dan dapat menyebabkan tanah longsor. Selain itu, proses produksi listrik dari geotermal dapat mengandung berbagai senyawa beracun yang bisa merusak rantai makanan.
Kedua, proses konversi energi biomassa menjadi bahan bakar bisa berdampak pada keanekaragaman hayati, air, udara, dan tanah serta memicu deforestasi yang berkibat pada erosi tanah plus risiko banjir. Â
Ketiga, penggenangan lahan dalam rangka membuat bendungan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) akan menghilangkan flora dan fauna di wilayah tersebut. Kemudian, sayatan-sayatan pisau pada turbin dapat membuat ikan serta berbagai organisme lain terluka. Bahkan, pengoperasian PLTA juga mengemisi karbon dioksida yang mencemari udara dan berkontribusi pada pemanasan global.
Keempat, sebagaimana diperingatkan Michael Grunwald dalam "The Clean Energy Scam" (Times Magazine, April 7, 2008), penggunaan etanol berbasiskan komoditas jagung untuk menggantikan minyak bumi ternyata berdampak buruk dengan ikut meningkatkan pemanasan global, menghancurkan hutan, dan meningkatkan harga komoditas makanan.
Jadi, pernyataan bahwa EBT itu sepenuhnya ramah lingkungan hanyalah mitos. Sebaliknya, pemanfaatan EBT bisa saja kian menguras segala sumber daya alam dan melahirkan krisis lingkungan yang semakin parah. Alhasil, akar permasalahan pemanasan global sebenarnya adalah mentalitas manusia yang serakah, eksploitatif, dan merasa berhak menundukkan alam sebagai objek.
Budaya 'cukup'
Keserakahan membuat umat manusia mengejar hidup lebih dari sekadar 'cukup'. Padahal, menurut Henry Thoreau (Walden, Signet, 2012), hidup sejahtera itu bukanlah hidup berlebih, melainkan hidup berdekatan dengan alam berdasarkan standar hidup sekadar 'cukup.' Maksudnya, manusia cukup mengkonsumsi apa yang ia butuhkan untuk hidup berkualitas tanpa keinginan menumpuk materi.
Jika manusia bisa mengerem keserakahannya demi menjalani budaya 'cukup', kegiatan memanfaatkan alam akan berjalan secara harmonis dalam suatu rantai ekosistem yang saling memelihara. Sebab, alam sejatinya memiliki kapasitas untuk memperbaiki dirinya sendiri asalkan tidak dieksploitasi berlebihan. Dalam perspektif etis-teologis, manusia sebagai penjaga Bumi memang berhak memanfaatkan alam untuk kepentingannya, asalkan semua itu dilakukan secara seimbang, amanah, dan adil (Ibrahim Abdul Matin, Greendeen, Zaman, 2010).