Mohon tunggu...
Suyito Basuki
Suyito Basuki Mohon Tunggu... Editor - Menulis untuk pengembangan diri dan advokasi

Pemulung berita yang suka mendaur ulang sehingga lebih bermakna

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Susilo Toer, Pemulung Sampah dengan Filosofi Global

8 Mei 2022   07:46 Diperbarui: 8 Mei 2022   07:48 706
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Susilo Toer, di usia 86 th masih semangat bekerja (dokumen pribadi)

Susilo Toer, Pemulung Sampah dengan Filosofi Global

Oleh: Suyito Basuki

Suatu malam, seorang laki-laki tua memarkir motor di depan sebuah toko pakaian di kota Blora.  Segera saja laki-laki, yang tak lain Susilo Toer mendekati tempat sampah toko itu, serta mengambil sampah berupa plastik, kertas yang terdapat di dalamnya.  Orang menyebut, pekerjaan seperti itu adalah sebagai pekerjaan memulung atau memungut sampah.  Orang yang melakukan pekerjaan tersebut disebut pemulung. 

Bargaining Power

Ditemui di kediamannya, di kelurahan Jetis kecamatan Blora kota, Susilo Toer yang adalah lulusan S3 bidang ekonomi di Universitas Pleikanov Rusia ini, sampai saat ini masih cari rongsokan, tiap malam.  "Tadi malam paling sepi, karena habis Lebaran," demikian ujarnya.   Setiap malam ia mengambil sampah di kota Blora, berkeliling dengan motor bututnya, termasuk mengambil sampah di depan sebuah toko pakaian, sebelah rumah ibu mertua. 

Susilo Toer mengaku, "bronjong" yang diletakkan di jok motornya, kadang-kadang penuh, kadang-kadang kosong.  Apa saja sampah yang laku dijual diambilnya.  Pengambil barang datang ke rumahnya untuk membeli.  Dengan demikian Susilo Toer dapat menawarkan harga sampah itu sesuai dengan keinginannya. "Saya tidak pergi menjual ke mereka, merekalah yang datang ke sini untuk membeli.  Kalau saya yang menjual dengan harga mereka saya nggak mau, harus dengan harga saya.  Itu kan berarti saya punya bargaining power," kata Susilo Toer bersemangat.  "Jadi saya bukan budak mereka, mereka yang membeli, mereka yang butuh," demikian terang Susilo Toer selanjutnya.

Penyelamat Dunia

Bagi Susilo Toer yang adalah adik dari pengarang kondang, Pramudya Ananta Toer, seorang pemulung memiliki nilai yang tinggi.  Seorang pemulung bisa dikatakan menurutnya adalah penyelamat dunia dari kubangan sampah. 

"Tapi bukan masalah jual beli sampah saja.  Kalau Anda perhatikan, pemulung itu penyelamat dunia,"demikian ujarnya.  " Saya satu malam 2 Kg plastik.  Di Blora ada 50 pemulung.  Jadi kalau dapatnya sama 2 Kg akan menjadi 100 Kg.  Di Indonesia ada setengah juta pemulung.  Jadi berapa, 1 juta kilogram.  Di dunia ada 5 juta pemulung, jadi 10 juta Kg plastik, apa ngga penyelamat dunia itu?  Itu satu hari lho dan itu baru plastik, belum koran, belum besi, belum kardus, yang bisa mengotori bumi.  Jangan lihat pekerjaannya," urai Susilo Toer dengan berapi-api.

Dengan nada bicara turun, Susilo Toer pernah direndahkan oleh seorang mantan pejabat di kotanya, gara-gara penghidupannya sebagai pemulung.

"Saya pernah dihina bekas wakil bupati.  Dia bilang ' memalukan Blora, sarjana jadi pemulung.'  Saya ngga perduli, dia ngga ngasih makan saya kok."  Susilo Toer melanjutkan kalimatnya, "Kalau menurut saya, kalau mau hidup harus kerja, tiap orang harus punya fungsi.  Belum manusia Anda, jika belum mengerti hakekat Anda sendiri," demikian Susilo Toer mengutip kata seorang filsuf tua Yunani.

Kenikmatan Abadi

Berfoto bersama Susilo Toer yang berpenampilan sederhana (dokumen pribadi)
Berfoto bersama Susilo Toer yang berpenampilan sederhana (dokumen pribadi)

Susilo Toer kemudian berbicara perihal filsuf Yunani Socrates saat akan dibunuh.  Ketika itu  ditunggui oleh Plato dan keluarganya, mereka menangis.  Socrates berkata,"Jangan tangisi saya, kematian adalah kenikmatan abadi."  Terinspirasi dengan hal itu Susilo Toer mengatakan bahwa pekerjaan memulung itu memberi  kenikmatan abadi.  Membandingkan dengan seks yang di bagian tulisan sebelumnya disebutnya sebagai kenikmatan tertinggi, Susilo Toer berkata,"Wanita paling memberi kepuasan 10 menit, tetapi pemulung memberi kenikmatan seumur hidup, un limited." Demikian terangnya. 

Oleh karena itulah, ia sangat bersemangat dengan pekerjaan memulung sampah ini.  "Kalau saat hujan atau gerimis, pemulung-pemulung tidak keluar, tetapi saya malah keluar.  Karena sepi, maka dapatnya banyak,"  kisah Susilo Toer tentang pekerjaannya.  Dibanding pekerjaan-pekerjaan yang lain, pemulung sampah menurutnya memiliki nilai absolut yang tinggi.  Katanya,"Saya pencipta nilai lebih absolut.  Buruh dan tani mencipta nilai lebih relatif.  Buruh tergantung majikan, petani tergantung bibit, musim, hama dan sebagainya. Itu yang dinamakan relatif.  Kalau pemulung, makin banyak kerja, mesti makin banyak hasil, jadi absolut.  Terserah orang lain, tinggal mengartikannya beda-beda," demikian terang Susilo Toer.

Sepeda motor dan beberapa karung barang sampah hasil memulung (dokumen pribadi)
Sepeda motor dan beberapa karung barang sampah hasil memulung (dokumen pribadi)

Menulis dan Menjual Buku

Selain pekerjaan memulung sampah, hidup Susilo Toer dicurahkannya dengan menulis dan menjual buku, yang diterbitkan oleh anaknya semata wayang.  Dengan bergurau, menyebut anaknya bergelar SE.  Namun gelar SE itu bukan Sarjaan Ekonomi tetapi menurutnya singkatan dari Second Edition atau generasi kedua. 

Bersemangat sekali Susilo Toer bercerita tentang anaknya yang di usia 32 tahun tetapi belum menikah ini.  "Dia Tinggal di Jogja, tetapi bulan lalu pulang ke Blora dan menginap di rumah sendiri di daerah Purwosari Medang Blora.  Dia Bilang, kamar belakang ada kepundungnya, rumah rayap.  Kemudian cuma saya pelur, mau saya keramik belum bisa karena kepercayaan masyarakat di situ, kalau mau bikin keramik, harus kawin dulu." Demikian kata Susilo Toer sambil tertawa.

Kemudian dia bercerita pekerjaan anaknya sebelumnya,"Tadinya kerja di Astra, gajinya 20 juta, ngga suka.  Kata anak saya 'Saya ngga mau jadi budak, apalagi budaknya Jepang.  Saya mau jadi budak diri saya sendiri'.  Terus dia keluar dari Astra.  Tapi ya nggak kurang pendapatannya saat ini.  Tanahnya di Blora, lebih dari 5000 meter persegi.  Bikin rumah di Jogja."   Demikian Susilo Toer, betapa bangga ia terhadap anaknya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun