Wayang Wahyu, Wayang Perjanjian dan Lakon Daud Winisuda
Oleh: Suyito Basuki
Menurut Prof. R.M. Moerdowo F.R.S.A dalam bukunya Wayang Its Significance in Indonesian Society, ada beberapa jenis wayang yang berkembang di Indonesia. Â Jenis wayang tersebut adalah Wayang Beber yang mengisahkan babad tanah Jawi; Wayang Purwa yang berdasarkan epik Mahabharata; wayang gedhog yang mengambil cerita berdasarkan Serat Panji; Wayang Golek yang mengisahkan kisah Mahabharata dan Cerita Ambyah; Wayang Klithik atau Wayang Krucil yang menceritakan kisah yang terambil dari buku Damarwulan; Wayang Madya yang mengambil kisah dari buku Hajipamasa; Wayang Pancasila yang mendasarkan ide cerita dari lima sila dasar Negara Republik Indonesia; Wayang Bali yang selain mengambil cerita dari epik Mahabharata dan Ramayana, juga mengambil cerita Calon Arang atau Leyak.
Tentang Wayang Wahyu
S. Haryanto, dalam buku Pratiwimba Adhiluhung, Sejarah Perkembangan Wayang, menambahkan, selain Wayang Beber dan Purwa, terdapat Wayang Menak, Wayang Babad, Wayang Modern yang terdiri dari Wayang Wahana, Wayang Kancil, Wayang Wahyu, Wayang Dobel, Wayang Sejati, Wayang Budha, Wayang Jemblung, Dhalang Jemblung, Dhalang Kentrung, dan Wayang Sadat.
Khusus mengenai Wayang Wahyu, dijelaskannya bahwa wayang yang tercipta tahun 1960 ini mengambil lakon yang bersumber Alkitab Injil Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Â Wayang Wahyu ini diciptakan oleh Broeder Temotheus Marji Subroto yang meninggal tgl. 17 Juli 1976. Â Bentuk wayang ini mengambil bentuk seperti rupa manusia.Â
Dalam perkembangan Wayang Wahyu, ada yang menyebut Wayang Sabda, ataupun Wayang Perjanjian. Â Wayang Perjanjian, menurut istilah yang digunakan pemilik wayang, PPIP Univ. Kristen Duta Wacana Yogyakarta, juga mirip Wayang Wahyu, ceritanya bersumberkan Alkitab Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Â Meski wanda (roman muka) hampir mirip dengan Wayang Purwa, oleh desainernya, Sudaryanto dari Simo Boyolali, pakaian dan perlengkapan perang dimodifikasi. Â Ciri khas Wayang Perjanjian ini jika dibanding dengan Wayang Purwa, tokoh-tokohnya tidak ada yang membawa keris, tidak berambut bergelung dan tidak menampilkan wayang dengan bokongan, seperti tokoh Puntadewa atau Arjuna. Â Bagi dhalang, wanda yang mirip dengan Wayang Purwa ini, sangat membantu dalam pengucapan tokoh demi tokoh sesuai dengan karakternya yang tercermin dari wanda masing-masing.
Daud Winisuda
Beberapa lakon Wayang Wahyu atau Wayang Perjanjian pernah saya pentaskan seperti: Babad Miyose Mesias; Babad Pamratobating Saulus; Babad Sang Hakim Simson, Cariyos Paskah dan lain-lain.  Salah satu lakon Wayang Perjanjian yang pernah saya pentaskan adalah lakon "Daud Winisuda".  Kisah ini mendasarkan ceritanya dari kitab Suci Perjanjian Lama Samuel  pasal 1 ayat 8 hingga Samuel pasal 2 ayat 2.  Kisah ini sungguh gayeng, baik dari segi tontonan maupun tuntunannya.  Memang dalam pementasannya, tidak dapat dihindarkan adanya penafsiran-penafsiran dhalang ketika melakukan sanggit terhadap cerita tersebut.  Oleh karena itu, penonton harus bersiap melihat pertunjukan ini bukan semata-mata seperti membaca teks kitab suci, tetapi seolah penonton sedang mendengar dan melihat khotbah yang penuh dengan penafsiran.  Meski demikian, tekanan tetap pada semangat injili dan eksposisi yang baik terhadap kitab suci, tetap diusahakan oleh ki dhalang sebagai pembawa cerita.
Lakon "Daud Winisuda" menceritakan Daud yang menjadi raja atas Israel. Â Kisahnya dimulai ketika raja Saul menerima tantangan perang dari Goliat, orang Filistin. Â Tidak ada yang berani maju menghadapi Goliat ini, tetapi Daud yang tidak diperhitungkan oleh pihak Filistin maupun Israel, maju dan mengalahkan Goliat.Â
Kecemerlangan Daud kemudian dalam menghadapi musuh-musuh Israel berikutnya, serta hilangnya legitimasi Saul atas kerajaan Israel, menumbuhkan rasa dengki Saul kepada Daud. Â Meski Saul berusaha berkali-kali membunuh Daud, Daud tetap tidak membalas kejahatan Saul itu, walau Daud memiliki dua kesempatan emas untuk membunuh Saul.
Dalam peperangan melawan raja-raja Filistin, Saul beserta dengan Yonatan, putra mahkotanya gugur di medan laga. Â Daud menjadi sedih karena peristiwa itu. Â Daud yang jauh hari sebelumnya sudah diurapi oleh Nabi Samuel yang berarti secara de jure sudah menjadi raja Israel; kala Saul telah tiada, diangkat oleh rakyat menjadi raja menggantikan Saul sebagai raja Israel. Â Secara de jure dan de facto, Daud menjadi raja. Â Legitimasi kekuasaan atas Negara Israel ada padanya!
Catatan kecil: penulis alumni sekolah pedhalangan Habirandha Kraton Yogyakarta, lulus th 2000
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H