Setelah kasus bunuh diri ini viral, banyak gen Z yang bersimpati atad kematian Pang Mao dan meletakkan karangan bunga menyalakan lilin, dan burger McD di sepanjang sisi jembatan.
Apakah putusnya cinta harus diakhiri dengan bunuh diri ? Entah dengan melompat dari atas jembatan, atau terjun dari atas apartemen, gantung diri, atau menyayat nadi atau minum racun serangga ?
Kata orang bijak, dunia tak selebar daun kelor. Bila sudah berani membina cinta harus siap patah hati dan siap segera "move on". Karena masih banyak calon lain. Hal ini berlaku baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Bagi gen Z yang memiliki sifat introvert harap waspada. Bagi yang tidak banyak memiliki teman harus banyak bergaul dengan konunitas, olahraga atau hobi. Hidup menyendiri mudah dihinggapi tekanan mental, apalagi ditengah lingkungan yang berat, susah mencari pekerjaan, susah mencari uang, susah berkarier, meski sudah lulus dari pendidikan tinggi.
Hindari niat untuk bunuh diri, karena bunuh diri bukanlah tindakan seorang ksatria. Jangan malu bila gagal, nencobalah terus. Karena menyatukan dua hati harus dilakukan secara tulus dan bukan oleh upaya yang toksik
Memang mudah mengatakan dunia tak selebar daun kelor, tapi ungkapan ini memang benar. Kesetiaan bukanlah diukur dengan mencintai sampai mati seperti kisah roman Romeo Juliet, mencintailah secara dewasa. Bila sudah tidak ada kesamaan, yang bisa saling melengkapi, lebih baik diakhiri, dan jangan memaksakan diri. Karena dunia masih luas, berikhtiarlah.
Bagi kita yang mulai berani mencintai seseorang, boleh cinta, tapi jangan menjadi bucin (budak cinta). Cintai pasangan 50% dan sisanya tetap mencintai diri sendiri dan sesama. Hal ini guna mencegah aksi bunuh diri berkelanjutsn.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H