Mohon tunggu...
Sutiono Gunadi
Sutiono Gunadi Mohon Tunggu... Purna tugas - Blogger

Born in Semarang, travel-food-hotel writer. Movies, ICT, Environment and HIV/AIDS observer. Email : sutiono2000@yahoo.com, Trip Advisor Level 6 Contributor.

Selanjutnya

Tutup

Book Pilihan

Kisah di Balik Layar Terbitnya Novel Cintaku Setengah Agama

20 Februari 2023   05:00 Diperbarui: 20 Februari 2023   21:51 315
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Iswadi dan novelnya (dokpri)

Anda tentu penasaran saat membaca judul novel yang ditulis oleh Iswadi Suhari, "Cintaku Setengah Agama". Apakah Anda sudah membaca novel tersebut?

Karena penasaran, guna menyemarakkan bulan kasih sayang, Ketapels, komunitas Kompasianers yang berdomisili di area Tangerang Selatan Plus lalu berkolaborasi dengan Ladiesiana, komunitas Kompasianers Wanita mengadakan bedah buku tentang di balik layar (behind the screen) pembuatan novel "Cintaku Setengah Agama" dengan nara sumber penulisnya langsung, Iswadi Suhari.

Acara ini dihelat Minggu 19 Februari 2023 di rumah kediaman penulisnya di Duta Bintaro, Tangerang Selatan. Selain acara ini, Ketapels bulan ini uga mengadakan lomba Instagram mengenai cinta.

Iswadi bersama Rifki (dokpri)
Iswadi bersama Rifki (dokpri)
Ishwadi yang semula berkarier sebagai pegawai negeri di BPS selama 20 tahun lebih sehingga sarjana S1 statistik dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini berhasil mencapai jabatan sebagai Kasubdit. Selama berkarier juga sempat meraih gelar S2 di bidang Natural Science di Brisbane Australia pada 2006 namun belum berhasil menyelesaikan pendidikan doktornya, meski sudah sering disapa pak Doktor oleh rekan-rekan yang sering dibantunya.

Suatu hari, Iswadi ketemu penulis Asma  Nadia, dari bincang-bincang dengan penulis ini mendapat pencerahan bahwa seorang manusia harus mampu menghasillkan sebuah buku sebagai legacy.

Iswadi merasa tertantang, sebagai pembuktian diri seseorang harus menunjukkan kemampuannya. Apalagi sejak SMA, Iswadi memang sudah senang menulis. Karena baginya, menulis itu dapat bermanfaat bagi orang lain. Bila dilakukan secara verbal, hanya sedikit orang yang mendengar, tetapi kalau menulis bisa lebih banyak dibaca orang. Menulis tampaknya iseng, namun dapat membantu orang lain. Contohnya, tulisannya sempat dikutip beberapa mahasiswa untuk materi skripsinya, bangga khan mampu membantu orang menjadi sarjana.

Iswadi juga rajin menulis di koran cetak Jakarta Post. Sebagian novelnya mulai ditulis di Kompasiana berupa cerita bersambung, dan pernah sempat hilang saat Kompasiana pindah sistem.

Niat mulia ini menjadi modal utamanya dalam menulis, asalkan dilakukan secara konsiaten. Baginya lebih baik menulis jelek asal selesai, daripada menulis baik tetapi tidak selesai.

Karena Iswadi sudah pernah menulis buku dengan judul "Cara Gampang Cari Uang dengan Menulis Opini" yang diterbitkan oleh penerbit Elex Media. Karena itu proyek ambisiusnya dirubah menjadi harus menulis satu novel sebelum mati.

Uniknya, Iswadi selalu memiliki mimpi bukunya dicetak penerbit mayor, dan bisa nampang di toko buku bergengsi seperti Gramrdia.

Tulisan untuk bahan novelnya ini berdasarkan kisah nyata banyak orang, tapi dalam novel ditokohkan oleh satu orang tentunya dengan didramatisir pada konflik-konfliknya. Dan Iswadi paling tidak tega untuk menuliskan, tokoh yang sangat sengsara.

Proyek novelnya sempat mangkrak 2 tahun, tidak dapat terselesaikan sehingga Ishadi membayar motivator untuk memotovasi  dirinya agar novelnya bisa selesai. Novel akhirnya selesai, namun dengan pengorbanan besar desertasi doktornya yang tidak terpegang. karena saat harus menulis desertasi, pria Sunda yang biasa dipanggil Kang Didi ini lebih ingin menyelesaikan novelnya.

Kesulitan berikutnya, novel berhasil selesai namun ditawarkan ke penerbit mayor selalu ditolak. Tidak ada penerbit mayor yang tertarik.

Menurut analisanya kemungkinan karenat okohnya banyak dan novel ini terdiri beberapa babak. Normalnya tokoh dalam sebuah novel itu biasanya hanya satu.

Untungnya seorang temannya bersedia menanggung beaya pencetakan novelnya.
Mimpi terwujud di tahun 2017,  penerbit juga menyediakan sarana untuk pemasaran novelnya, namun tidak sempat dilakukannya. Novel dicetak 3.000 exemplar, laku 2.000 exemplar sehingga dapat  mengembalikan modal awal, sedangkan sisanya yang 1.000 exemplar disumbangkan ke Dinas Pendidikan sehingga Iswadi menerima puagam penghargaan.

Namun Iswadi justru mendapatkan sesuatu yang bernilai lebih bila dibandingkan kalau novelnya laku. Misalnya Iswadi diterima bekerja di FAO dan ditugaskan di Milan, Italia, sehingga sempat berkunjung ke beberapa negara di Eropa.

Iswadi yang kini bekerja untuk Kementeriaan Agama, sambil aktif menjadi content creator, masih ingin menulis novel dan masih mempunyai obsesi novelnya bisa dibuat film meski skripnya berubah total, tapi tertulis film di produksi berdasar novel karyanya. itulah sebabnya salah satu yang mengendorse novelnya adalah Daniel Rifki, seorang sutradara film.

Mengenai judul yang dipakai untuk novelnya, ternyata diambil dari haditz. Yang artinya, dengan menikah seseorang itu sudah nenunaikan setengah agamanya. Jadi, menikah itu untuk menyempurnakan agama.

Acara yang dimeriahkan dengan camilan secara potluck, diakhiri dengan makan siang bersama berupa nasi kebuli, dan  ayam bakar serta foto bersama.

Peserta (dok: Ketapels)
Peserta (dok: Ketapels)

Tentang Ketapels, saat ini dipimpin oleh Erin P yang biasa disapa Denik. Sedangkan Ladiesiana dipimpin oleh Riap Windhu. Bagi Kompasianer yang ingin bergabung dapat menghubungi keduanya.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Book Selengkapnya
Lihat Book Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun