Mohon tunggu...
Supli Rahim
Supli Rahim Mohon Tunggu... Dosen - Pemerhati humaniora dan lingkungan
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Saat-saat Terakhir dengan Kakanda dr Rusdi Damiri, SpOG

9 Februari 2021   11:38 Diperbarui: 9 Februari 2021   11:53 914
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Setelah menginap di rumah kak Hidayati, paginya kami meluncur ke RSCM. Tapi sebelumnya saya ke bengkel terdekat cari tempat ganti oli mesin mobil. Alhamdulillah ada. Pulang dari bengkel kami meluncur ke RS. Di RS ada keponakan, dr Angga menjemput kami di teras blok A. Tidak bisa masuk jika tidak ada "orang dalam". Angga adalah dokter yang bertugas di RSCM. 

Setibanya di ruang perawatan bang Rusdi, saya dan istri masih berusaha tegar. Tetapi ketika saya mencoba membangunkan beliau dengan agak berteriak, "bang, ini hari jumaat,  ayo kita ke masjid Agung. Maksudnya masjid Agung Palembang. Ada banyak kali kami solat bersama di Masjid Agung sewaktu beliau ada tugas di Palembang. Karena bang Rusdi sudah pindah ke Jakarta sejak 5 tahun terakhir. Bahkan beliau beli rumah sudah sejak 12 tahun yang lalu.

Pada saat saya memanggil bang Rusdi seperti itu, mata saya berair. Membayangkan cepatnya waktu berubah. Beliau yang gagah, ganteng, sehat, kini terbaring. Bang bangunlah kata saya.

Membicarakan hal penting kepada anak-anaknya

Dr Rusdi ada tiga orang putri yang sudah mapan kehidupannya. Semua sudah punya suami, punya anak, punya karir bagus. Dua putrinya adalah dokter spesialis dan bersuamikan dokter juga. Putri ketiganya adalah calon doktor yang bekerja di Universitas Telekom Bandung.

Saya mulai pembicaraan kepada anak-anak dan istri bang Rusdi, kak Yurnelis. Maaf kak, dan anak-anakku. Adik atau pamanmu ada hal yabg perlu dibicarakan menyangkut keikhlasan kalian terhadap ayahmu ini. Mereka menjawab ya om. Kami ikhlas.  Pembicaraan berlangsung lancar tetapi mereka pada menangis semua dan saya ikut menangis. Mereka bilang kami ikhlas paman, tetapi kami minta tempo untuk meminta kakak sulung kami hadir.

Setelah kakak tertua datang  suasana menjadi semakin sedih ketika saya sebagai paman keminta mereka agar mengikhlaskan kepergian ayah mereka. Menurut teori, kematian seseorang itu sangat terkait dengan sejumlah indikator antara lain tekanan darah dan indikator lainnya. 

Doa dan baca yaasin Fadhilah

Pada pagi hari itu kami secara bergiliran membimbing Bang Rusdi untuk membaca kalimat toyibah. Alhamdulillah beliau dalam keadaan bisa berkomunikasi. Hanya saja badan sudah lemah. Sesudah ramai-ramai kami membaca yaasin fadhilah dengan izin Allah beliau bangun dan pamit ingin mendirikan shalat. 

Pada sore hari menjelang malam saya  istri dan anak serta kak Hidayati pulang ke rumah beliau di Slipi. Saya pesan kepada kak Yurnelis dan anak-anak untuk memberi tahu kami jika bang Rusdi kenapa-kenapa.

Malam itu setelah pulas tertidur saya terbangun dan menulis tentang bang Rusdi . di sini. Saya terbayang-bayang selalu dengan bang Rusdi.  Betapa terkejutnya kami ketika pada pukul 08.00 wib pagi kak Yurnelis memposting gambar monitroing di grup WA beroyot Yayi Damiri bahwa bang Rusdi sudah pergi. Kami menangis bersama sambil menyiapkan segala sesuatunya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun