Demikian kesintingan Mehar ketika cinta kepada Suhni memuncak. Kesintingan yang mempertemukan dia dengan Kekasihnya. Namun sayang, Mahi telah dijodohkan dengan orang lain, Dum. Dan kisah cinta tidak sejalan itu menghasilkan perselingkuhan. Dan cinta turun kelas menjadi sekedar nafsu birahi.
" Cinta seharusnya berkembang menjadi pengabdian. Pengabdianmu malah melayu menjadi Cinta." ( Halaman: 81 )
Mari melanjutkan kisah Cinta anak manusia pada buku ketiga ISHQ MOHABBAT " Dari Nafsu Birahi menuju Cinta Hakiki." Saatnya kita bertemu dengan Punhu, seorang Pangeran dari Baluchistan yang rela meninggalkan kerajaan dan kekayaannya untuk bersama dengan Sasui, Si Cantik yang terkenal di seluruh Hindustan. Demi cintanya yang dalam Punhupun siap menerima apapun keadaan yang ada, bahkan bekerja sebagai tukang cuci, membantu Lal Muhammad, ayah Sasui. Namun keluarga kerajaan Baluchistan tidak terima akan hal itu. Maka diupayakan berbagai siasat untuk mengembalikan Punhu ke pangkuan kerajaan.
"Â Cinta memang tidak pernah masuk akal...
Untuk apa membahas cinta dengan mereka yang menutup diri? " ( Halaman 113 ).
Kasih murni tidak bisa dipisahkan batas dan aturan manusia. Dan akhirnya merekapun dipertemukan kembali dalam pangkuan Ibu Bumi, Ibu Pertiwi yang Maha Kasih.
Dari Ishq Mijaazii, Ishq Hakiki dan lalu Ishq Ilahi. Dari luapan nafsu birahi, kita menemukan sesuatu yang haqq, yang sejati kemudian baru menuju Ilahi! (Halaman : 127)
Demikianlah jalan kisah legenda anak manusia dari negeri 5 sungai. Kisah yang membangkitkan jiwa, menyentuh rasa batin pembaca yang membuka dirinya.
Saatnya kita menyanyikan sajak kerinduan dari Sufi besar Sai Abdul Wahab "Sachal Sarmast" ,
" Janganlah kau mengharapkan mukjizat lain dari Tuhan
Perhatikan dirimu, kawan
kaulah bukti nyata Kehadiran
Sang Pangeran.
Berhentilah, wahal Sachal,
berhentilah menangis karena rindu.
Ia yang kau rindukan sejak dulu
sesungguhnya berada di dalam dirimu!"
Rahayu...
Bukit Pelangi,
Sabtu Suci, 11 April 2020
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H