Mohon tunggu...
Sunan Amiruddin D Falah
Sunan Amiruddin D Falah Mohon Tunggu... Administrasi - Staf Administrasi

NEOLOGISME

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Pesta Sepak Bola Dunia pada Sebuah Lemari Tua

28 Juni 2024   05:14 Diperbarui: 28 Juni 2024   05:29 167
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Timnas Brasil pada Piala Dunia 1986. Sumber : fifa.com

Copa America 2024 digelar di Amerika Serikat mulai Kamis 20 Juni 2024 hingga Minggu 14 Juli 2024. Sebelumnya, mulai 14 Juni 2024 hingga 14 Juli 2024 mendatang, Pesta Bola Eropa diselenggarakan. Bagi para pecinta olah raga sepak bola, dua gelaran pesta bola antar negara di dua benua tersebut adalah momen tontonan yang tak akan dilewatkan. Hanya saja, mengapa pesta sepak bola tidak lagi semenarik dulu? 

Barangkali sebagian besar orang tidak setuju dengan pertanyaan itu, sebab faktanya pesta sepak bola, apapun jenis kejuaraannya masih menampakkan daya tarik dan kemeriahan yang luar biasa. Terlebih untuk gelaran kompetisi bergengsi antar negara di dunia, jutaan hingga milyaran pasang mata masih tertuju padanya. Benarkah? 

Untuk menjawab pertanyaan itu bila acuannya merujuk pada data semisal jumlah tiket di tiap pertandingan yang habis terjual, jumlah penonton yang kerap melebihi kapasitas stadion, rekapitulasi angka nonton bareng yang selalu terjadi di mana-mana atau data terkait lainnya yang menunjukkan akumulasi angka terhadap jalannya setiap pertandingan pada kejuaraan sepak bola yang terjadi di dunia, pesta sepak bola memang masih selalu menarik dan meriah. 

Namun jika ditarik mundur ke puluhan tahun silam, salah satunya ke pesta piala dunia 1986 di Meksiko ketika Argentina menjadi juaranya. Saat hampir seluruh manusia di muka bumi cenderung tahu siapa Diego Armando Maradona, juara Piala Dunia 1986 dan 'Gol Tangan Tuhan', dunia sepak bola kala itu menunjukkan ketertarikan dan kemeriahan yang jauh lebih dahsyat ketimbang di masa-masa sekarang. Apa alasannya?

Dari sebuah lemari tua yang terbuat dari kayu jati asli, sebagai satu-satunya furnitur peninggalan orang tua kami yang masih tersisa, ada sebuah memori kejuaraan sepak bola dunia yang terekam di permukaan cerminnya, lewat jejak stiker yang masih bisa dilihat hingga hari ini, meskipun saya bukan penggemar fanatik sepak bola apalagi saat tahun 1986 usia baru menginjak 10 tahun, setiap melihat ke cermin ingatan saya kembali ke respon para penggemar sepak bola terhadap Maradona. Sebuah cerita tentang gol tangan Tuhan yang tak habis-habis direspon hingga hari ini.

Pada sebuah lemari tua kayu jati, yang padanya pernah menjadi tempat keluarga kami menyimpan pakaian, dokumen, uang, barang berharga hingga kenangan, dengan usia yang jauh lebih tua dari tahun kelahiran saya sendiri, ternyata juga menyimpan cerita sepak bola dunia. 

Kini meskipun fisiknya masih belum mampu dikalahkan oleh serbuan rayap maupun air banjir yang seringkali datang bertamu, sosoknya sudah hampir terbengkalai lantaran hanya digunakan untuk menyimpan pakaian-pakaian lama tak terpakai. Tapi di cerminnya yang kusam melekat empat stiker terkait pesta sepak bola, yang salah satunya telah sobek.

Dari keempat stiker yang melekat di cermin lemari, tiga di antaranya menggambarkan sebuah momen piala dunia yang mengarah pada momen piala dunia di meksiko pada tahun 1986. Stiker pertama merupakan skuat tim Brasil yang sepertinya terdiri dari Carlos, Josimar, Edinho, Julio Cesar, Branco, Socrates, Elzo, Alemao, Junior, Muller dan Careca. Stiker kedua, tentu saja Diego Armando Maradona pemain Argentina yang fenomenal saat itu, dan stiker ketiga adalah kapten tim nasional Brasil di piala dunia 1986 yaitu Socrates. Lantas apa yang bisa terbaca dari keempat stiker?      

Sumber gambar: stiker piala dunia pada sebuah cermin lemari. Dok. Pri
Sumber gambar: stiker piala dunia pada sebuah cermin lemari. Dok. Pri

Ingatan saya pada tiga dari empat stiker mengarahkan memori pada salah seorang kakak yang gemar pada olahraga sepak bola di masa itu. Sebab dialah yang menempelkan keempat stiker di cermin lemari. Di pesta perhelatan piala dunia 1986 di Meksiko, kakak saya (almarhum) memang menjagokan atau menjadikan timnas Brasil sebagai tim favorit juara, tetapi sekaligus mengagumi dan mengidolakan Socrates dan Maradona sebagai pemain. Juga seorang pemain lagi yang seharusnya terpampang pada stiker keempat yang sudah sobek, dan cenderung menunjuk nama Michael Platini.  

Bagi kakak saya, keempat stiker yang menggambarkan pesta sepak bola piala dunia di Meksiko 1986 pada lemari tua bukan sekadar gambar yang ditempel. Gambar-gambar itu memanifestasikan euforia, kesenangan, kegembiraan, kemeriahan, semangat, tekad, keinginan dan hal lainnya yang memberikan gairah, motivasi dan inspirasi pada dirinya untuk menjadi pemain sepak bola serta sekaligus harapan agar sepak bola Tanah Air suatu hari nanti bisa ikut berkompetisi di ajang piala dunia.   

Bukan hanya kakak saya, euforia, kesenangan, kegembiraan, kemeriahan, semangat, tekad, keinginan dan segenap kehebohan piala dunia dirasakan oleh sebagian besar orang-orang terutama pecinta sepak bola di seluruh penjuru dunia, termasuk bangsa Indonesia.

Kemeriahan dan kehebohan pesta sepak bola kala itu bisa dikatakan jauh lebih dahsyat dibanding pesta sepak bola pada masa sekarang adalah karena euforia, kesenangan, kegembiraan, semangat, tekad dan segenap kemeriahan dan kehebohan lainnya datang dari hati, dari kecintaan yang sungguh pada sepak bola. Tidak sekadar fomo atau ikut-ikutan. 

Bayangkan kekuatan ketok tular (worth of mouth) waktu itu mampu membuat banyak orang yang menyukai dan mencintai sepak bola bersama-sama euforia tanpa kekuatan media informasi. Menjadikan pesta sepak bola piala dunia 1986 sebagai topik bahasan di setiap tongkrongan di mana pun. Padahal akses untuk menyaksikan setiap pertandingan piala dunia secara langsung pada masa itu tidak mudah dilakukan. 

Jangankan dapat mengakses bebas sebuah pertandingan sepak bola melalui live streaming seperti sekarang, menyaksikan pertandingan langsung di layar televisi saja saat itu masih sangat terbatas aksesnya. Bagaimana tidak? Di Indonesia, satu-satunya media penyaji siaran langsung piala dunia kala itu hanya stasiun TVRI. Itu pun dengan catatan bahwa masyarakat yang memiliki televisi juga masih sangat terbatas. 

Kendati demikian, di tengah sulitnya akses tontonan siaran langsung piala dunia pada masa itu, ketertarikan, kemeriahan dan kehebohannya didukung oleh kecenderungan kecintaan yang luar biasa pada sepak bola. Sehingga meskipun tidak mudah menyaksikan setiap pertandingan secara langsung dan informasi tentang segala hal yang berkaitan dengan piala dunia 1986 di Meksiko tidak tersaji aktual, masyarakat pecinta sepak bola kala itu tetap menunjukkan ketertarikan dan kemeriahan yang luar biasa.  

Bandingkan dengan pesta sepak bola yang diselenggarakan pada masa sekarang, ketika milyaran orang bisa dengan mudah mengakses pertandingan sepak bola secara live streaming di manapun keberadaannya lewat sentuhan jari, tapi faktanya kemudahan akses tersebut justru menjadikan pula terbukanya akses informasi lain yang dapat memecah konsentrasi minat banyak orang terhadap pesta sepak bola hingga mampu mengalihkan perhatian dari daya tarik dan kemeriahannya. Selain itu, ada kecenderungan fomo atau ikut-ikutan yang tidak didasari oleh hati atau kecintaan kala menyaksikan pertandingan sepak bola. 

Pesta sepak bola dunia pada sebuah lemari tua dalam kondisi dunia minim informasi aktual dan ketidakmudahan akses tontonan langsung ketika itu, menunjukkan betapa rasa suka dan cinta serta kekuatan ketok tular (worth of mouth) pada pesta sepak bola di masa lalu masih jauh lebih dahsyat daya tarik dan kemeriahannya. 

Pada akhirnya, bagi para pecinta sepak bola Tanah Air, apapun gelaran pestanya, yang diharapkan adalah timnas Indonesia bisa ikut berlaga di ajang Piala Dunia. Semoga saja semangat berpuluh-puluh tahun lamanya dapat terwujud di Piala Dunia 2026.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun