Mohon tunggu...
Sunan Amiruddin D Falah
Sunan Amiruddin D Falah Mohon Tunggu... Administrasi - Staf Administrasi

NEOLOGISME

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Demam Wolbachia Pencegah Demam

23 November 2023   07:27 Diperbarui: 23 November 2023   07:35 194
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber Gambar: Dok.Shutterstock/Niny2405/health.kompas.com

Jagat maya sedang demam kata 'Wolbachia'. Padahal kalau ditelusuri Wolbachia ternyata sejenis bakteri. Tetapi mengapa mahluk semikro itu bisa menghebohkan jagat maya?

Rupanya Wolbachia merupakan nyamuk hasil rekayasa teknologi biologi molekuler, yang penelitian dan pengembang biakkannya didanai oleh miliader Amerika Serikat, Bill Gates.

Nyamuk Wolbachia dikembang biakkan untuk tujuan pencegahan dan pemberantasan penyakit demam berdarah akibat virus dengue yang di bawa oleh nyamuk Aedes Aegypti

Bicara soal nyamuk saya jadi ingat candaan seorang teman yang mengatakan, "Nyamuk itu cuma satu nggak usah takut tapi harus waspada karena saudaranya banyak".

Saya juga teringat pada semacam pesan dalam sebuah buku yang sudah tidak saya ingat judul dan pengarangnya. Pesan yang membuat saya tertawa sendiri. Sebuah pesan yang sepertinya masuk akal dan lebih manjur dari apapun jenis obat pengusir nyamuk.

Pesan dalam kalimat itu kira-kira berbunyi, "Salah satu cara sederhana agar nyamuk tidak menggigitmu lagi adalah ketika kamu digigit nyamuk, usahakan nyamuknya kamu gigit balik. Darah bayar darah"

Selain itu, obrolan tentang nyamuk seringkali mengarah pada rasa syukur yang tiada tara akan kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Sebab dengan penciptaanNya atas hewan yang sekecil itu saja, dunia mampu melahirkan berbagai produk ekonomi yang ikut membantu penghidupan banyak orang.

Baca juga: Kukira Kau Stunting

Dari nyamuk terciptalah beragam jenis obat nyamuk bakar, elektrik, semprot, lotion anti nyamuk, raket, lampu perangkap nyamuk, abate, mesin fogging atau produk lain, beserta pabrik-pabriknya.

Belum lagi produk atau jasa yang lahir dari ragam penyakit yang bisa ditimbulkan oleh gigitan nyamuk seperti penyakit demam berdarah, malaria, chikungunya, demam kuning (yellow paper), kaki gajah (filariasis), zika dan radang otak (Japanese encephalitis).

Kembali ke nyamuk Wolbachia, namanya terdengar keren dan meskipun belum sepenuhnya diyakini dan terbukti, tugas nyamuk Wolbachia di muka bumi juga keren, yaitu membantu agar manusia bisa terhindar dari penyakit demam berdarah. Apakah bisa terwujud dan akan terbukti?

Nyamuk termasuk jenis serangga yang umumnya bertubuh kecil dengan berat tubuh nyamuk dewasa berkisar 2 -- 2,5 miligram dengan kecepatan terbang 1,5 -- 2,5 kilometer per jam. Sementara masa hidup nyamuk betina dewasa sekitar 40-60 hari, dan nyamuk jantan hanya memiliki masa hidup sekitar 10 hari.

Sebagai catatan, hanya nyamuk betina yang menghisap darah mahluk hidup karena membutuhkan protein untuk perkembangan telurnya. Sedangkan nyamuk jantan mendapatkan nutrisi dan makanan dari sari tumbuhan.

Mengutip tulisan Dahlan Iskan dalam artikel berjudul 'Tahija Wolbachia', ternyata Wolbachia berhasil diimplementasikan di dua dukuh wilayah Sleman, Yogyakarta. Hasilnya positif, jumlah korban demam berdarah mengalami penurunan drastis.

Lain Yogyakarta lain pula Bali, seperti negara Singapura, Bali menolak penyebaran nyamuk Wolbachia di wilayahnya. Salah satu alasan Bali menolak Wolbachia adalah kekhawatiran akan hilangnya mata pencaharian atas akibat kemungkinan ketakutan wisatawan terkait keberadaan nyamuk Wolbachia.

Informasi penolakan itu menunjukkan bahwa keberhasilan yang dicapai belum sepenuhnya diyakini oleh semua kalangan masyarakat. Terlebih ketika bicara tentang kemungkinan akibat yang akan ditimbulkan pada keberlangsungan ekologi yang tidak lagi alami di dua puluh tahun mendatang. Sebenarnya bagaimana cara nyamuk Wolbachia membunuh virus dengue?

Ketika bakteri Wolbachia berhasil diinokulasi, disebarkan dan tumbuh menjadi nyamuk Wolbachia dewasa, nyamuk ini selanjutnya akan mengawini nyamuk Aedes Aegypti. Saat nyamuk jantan ber-Wolbachia kawin dengan nyamuk betina tanpa Wolbachia maka telurnya tidak akan menetas.

Apabila nyamuk betina ber-Wolbachia kawin dengan nyamuk jantan tidak ber-Wolbachia seluruh telurnya akan menetas. Namun telur-telur tersebut akan menetas dan tumbuh dengan membawa bakteri Wolbachia.

Kalau merujuk catatan di atas bahwa hanya nyamuk betina yang menghisap darah maka yang harus dikawinkan dengan nyamuk ber-Wolbachia adalah nyamuk betina dan mengingat masa hidup nyamuk betina dikisaran 40-60 hari maka nyamuk jantan berWolbachia yang hanya memiliki masa hidup 10 hari, harus gerak cepat untuk mengawini nyamuk-nyamuk betina tanpa Wolbachia.

Pertanyaan menggelitiknya, gimana yah cara pdkt nyamuk jantan ber-Wolbachia untuk bisa mengawini nyamuk betina tanpa Wolbachia hanya dalam waktu 10 hari? Apa pendekatan nyamuk jantan ke nyamuk betina secepat itu? Are you, oke? Yakin bisa one-night stand?

Demam (tergila-gila) Wolbachia yang ditunjukkan oleh berita tentang Wolbachia di berbagai media, memberikan kita informasi mengenai sosok ilmuwan Indonesia di balik eksistensi nyamuk Wolbachia, yaitu Prof. dr. Adi Utarini, pengajar dan peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM).

Hebatnya, nama Adi Utarini berkibar mengharumkan nama Indonesia berkat penelitiannya tentang nyamuk, sekalipun dalam artikel Dahlan Iskan menyebutkan satu nama lain, yakni Prof. Scott O'Neill yang juga peneliti nyamuk dari Monash University Australia.

Adi Utarini lalu dinobatkan sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia versi TIME di tahun 2021. Ia pun mendapat pengakuan dari salah seorang sosok berpengaruh, filantropis sekaligus pebisnis, Melinda Gates, lewat kekagumannya terhadap Adi Utarini yang diungkapkan di akun Instagram pribadinya @melindafrenchgates.

Atas dasar informasi, berita, kabar termasuk di dalamnya apresiasi yang di dapat oleh sosok ilmuwan serta data keberhasilan, nyamuk Wolbachia dapat dikatakan sebagai nyamuk pencegah demam, terutama demam berdarah akibat virus dengue dan kecenderungan pencegah demam chikungunya, demam kuning atau demam zika.

Tapi keberhasilan itu tentu saja belum dapat diterima oleh semua kalangan yang masih memiliki demam pikiran akan akibat yang bisa ditimbulkan oleh nyamuk Wolbachia kelak di kemudian hari.

Begitu juga saya pribadi di tiga hari kemarin ketika kulit kaki dan tangan anak saya yang baru berusia 4 (empat) bulan tiba-tiba bentol merah dan agak besar setelah digigit nyamuk saat menginap di rumah bibinya.

Bentol merah yang tidak seperti gigitan nyamuk biasanya. Namun hanya sebatas menduga-duga, jangan-jangan itu gigitan nyamuk Wolbachia! Aduh pikiran saya ikut demam!   

   

Referensi

https://www.kompas.com/skola/read/2021/03/04/115927669/berapa-lama-masa-hidup-nyamuk?page=all

https://disway.id/read/743283/tahija-wolbachia

https://inet.detik.com/science/d-7047831/ada-ilmuwan-indonesia-di-balik-nyamuk-wolbachia-yang-didanai-bill-gates

 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun