Hebatnya, nama Adi Utarini berkibar mengharumkan nama Indonesia berkat penelitiannya tentang nyamuk, sekalipun dalam artikel Dahlan Iskan menyebutkan satu nama lain, yakni Prof. Scott O'Neill yang juga peneliti nyamuk dari Monash University Australia.
Adi Utarini lalu dinobatkan sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia versi TIME di tahun 2021. Ia pun mendapat pengakuan dari salah seorang sosok berpengaruh, filantropis sekaligus pebisnis, Melinda Gates, lewat kekagumannya terhadap Adi Utarini yang diungkapkan di akun Instagram pribadinya @melindafrenchgates.
Atas dasar informasi, berita, kabar termasuk di dalamnya apresiasi yang di dapat oleh sosok ilmuwan serta data keberhasilan, nyamuk Wolbachia dapat dikatakan sebagai nyamuk pencegah demam, terutama demam berdarah akibat virus dengue dan kecenderungan pencegah demam chikungunya, demam kuning atau demam zika.
Tapi keberhasilan itu tentu saja belum dapat diterima oleh semua kalangan yang masih memiliki demam pikiran akan akibat yang bisa ditimbulkan oleh nyamuk Wolbachia kelak di kemudian hari.
Begitu juga saya pribadi di tiga hari kemarin ketika kulit kaki dan tangan anak saya yang baru berusia 4 (empat) bulan tiba-tiba bentol merah dan agak besar setelah digigit nyamuk saat menginap di rumah bibinya.
Bentol merah yang tidak seperti gigitan nyamuk biasanya. Namun hanya sebatas menduga-duga, jangan-jangan itu gigitan nyamuk Wolbachia! Aduh pikiran saya ikut demam! Â Â
 Â
Referensi
https://www.kompas.com/skola/read/2021/03/04/115927669/berapa-lama-masa-hidup-nyamuk?page=all
https://disway.id/read/743283/tahija-wolbachia