Mohon tunggu...
Cala
Cala Mohon Tunggu... Freelancer - Titus

Penggemar komik silat, sepakbola, meski cuma sebagai penonton.

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Boikot BCS (Kali Ini) Demi Apa?

24 November 2019   16:46 Diperbarui: 24 November 2019   16:49 184
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Brigita Curva Sud (BCS), kelompok suporter PS Sleman yang dikenal dengan militansi dan kreativitasnya akan melanjutkan boikotnya hingga masalah Y (16 th), salah satu suporternya clear.

Begitu berita yang bisa dibaca dari salah satu media lokal Yogyakarta. Berita tentang kelanjutan kasus Y yang terbukti memasang poster berisi kritikan terhadap mantan CEO PT Putra Sleman Sembada (PT PSS), Soekeno. Poster itu dipasang di toilet Sleman City Hall (SCH), pusat perbelanjaan yang milik Soekeno.

Kejadian pada 10 November 2019 itu terungkap enam hari kemudian. Menurut Polsek Sleman, Y disuruh oleh R (24 th) untuk menempelkan poster itu. R sendiri kabur, dan saat ini sedang dicari oleh kepolisian.

Tiga hari kemudian (19/11/2019) Tagar #bebaskanyudhiatauboikot kemudian berseliweran di Twitter, jadi trending topik.

Soekeno sendiri saat ditanya wartawan mengatakan "Kasus oknum supporter nempel-nempel poster di dalam mall itu memang perkara pidana. Itu tidak ada sangkut-pautnya dengan PSS." Soekeno juga menegaskan selama ini ia tak pernah komplain meski sering dikritik oleh suporter.

Kapolsek Sleman, Kompol Sudarno, melalui Kanit Reskrim Polsek Sleman, Iptu Yulianto memberikan penjelasan bahwa Y tidak ditahan, tapi dibina di Dinas Sosial setempat (di daerah Sleman).

"Karena anak-anak, maka kami kembalikan ke keluarga. Karena bapaknya gangguan jiwa dan ibunya di jakarta, kita koordinasikan dengan Dinas Sosial, BPRSR untuk pembinaan pada anak yang bermasalah," jelas Iptu Yulianto.

Y sendiri sudah dipulangkan oleh pihak Polsek Sleman pada 20 November 2019 pagi, dijemput oleh ibunya yang datang dari Jakarta. "Alasan kami melepas karena yang bersangkutan di bawah umur dan ibunya dari Jakarta kan sudah pulang. Wajib lapor tetap kami kenakan," jelas Polsek Sleman.

Demo di SCH, Januari 2019 (foto : Medcom.id)
Demo di SCH, Januari 2019 (foto : Medcom.id)
Sebagai catatan, tak cuma sekali itu SCH jadi tempat menyampaikan protes. Puluhan orang yang mengatasnamakan suporter PSS Sleman pernah melakukan demonstrasi pada  6 Januari 2019 lalu. Sejumlah spanduk di antaranya bertuliskan 'Mall PSS???', 'Suck Keno', 'Kami Tidak Percaya!', hingga 'PSS Sleman City Hall' dibentangkan.

Meski Y telah dibebaskan, tapi BCS sendiri tetap melakukan boikot pada laga PSS menjamu Borneo FC, 20 November 2019 malam. Tribun selatan kosong, tapi banyak suporter tetap memenuhi tribun utara dan sudut lainnya. Meski PSS kalah tipis 0-1 dari Borneo FC, tapi dukungan penonton tetaplah meriah.

Boikot itu merupakan yang kedua kalinya dilakukan oleh BCS, setelah yang pertama terjadi dalam laga perdana Piala Presiden saat PSS menghadapi Madura United pada 5 Maret 2019. Saat itu pokok persoalan adalah 8 tuntutan yang ditujukan kepada PT PSS, antara lain soal akademi sepakbola, mess dan lapangan latihan untuk pemain PSS.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun