Setelah pensiun aktivitas rutin saya ringan-ringan saja. Hanya ibadah. Berjalan kaki 5 kali sehari ke masjid, pergi-pulang. Jarak 600 meter sekali jalan. Naik-turun tangga. Merasa sehat karena setiap hari bangun tidur lebih cepat. Salat tahajud di rumah, dan salat subuh berjemaah di masjid. Tak ketinggalan puasa sunah Senin-Kamis. Ketika dulu masih berdinas, aktivitas ibadah itu belum rutin. Â
Selebihnya menengok cucu. Cuci pakaian tanpa mesin, dan jemur. Merawat beberapa pot tanaman hias. Juga reuni dengan teman-teman kantor tetangga satu kompleks perumahan. Ketemu di masjid atau di jalan. Sesekali reuni virtual.
*
Dari obrolan di atas saya memprovokasi teman-teman pensiunan untuk menikah lagi. Pertimbangkan masak-masak. Saya sudah membuktikan manfaatnya. Hidup menjadi (relatif) lebih sehat, bermakna, bahagia. Insyaa Allah, dunia - akhirat.
Terkait ajakan di atas, Â ya tentu "syarat dan ketentuan berlaku". Seperti dalam setiap transaksi bisnis apapun. Apa itu? Izin. Sebelum menikah dengan istri kedua, saya perlu minta izin dan memberitahu adik-adik istri pertama dan ibunya (mertua perempuan, saat itu masih ada). Juga mengabari anak-mantu dan keluarga saya. Mereka tidak keberatan.
Tinggal minta izin kepada istri pertama. Perlukah? Bagaimana kira-kira jawabannya nanti? Mungkin begini jawaban istri pertama saya. "Menikah lagi? Serius? Bapak tidak sedang bergurau 'kan?"
Dengan jawaban itu tentu saya hanya bisa diam. Berdoa saja di dalam hati. Menunggu ia melanjutkan ucapannya. "Boleh. No problem, Pak. Silahkan saja. Tapi ada syaratnya. Pertama, calon istri bapak harus lebih cantik dari aku. Kedua, harus lebih kaya, lebih perhatian-setia-jujur-sayang kepada bapak. Satu lagi. Ketiga, langkahi dulu mayatku. . . . . . !"
Tragis, dan menyesakkan dada sebenarnya ironi semacam itu. Maka saya tidak pernah melakukannya. Sampai saat ini saya tidak pernah meminta izin kepada istri pertama. Sembunyi-sembunyi? Tidak juga. Ia sudah meninggal 9 tahun lalu. Tepatnya pada Sabtu, 22 Desember 2012. Sedangkan saya menikah lagi 2 tahun kemudian, pada Ahad, 15 Januari 2015.
Istri pertama 8 tahun bergulat dengan gagal ginjal yang diidapnya sebelum meninggal di Manado. Dimakamkan di pemakaman muslim Sea, Minahasa. Usianya saat itu 47 tahun. Ia 8 tahun lebih muda dari saya. Hitung-hitungan sederhana mestinya saya lebih dahulu meninggalkannya. Tapi begitulah takdir Allah berlaku.
Adapun suami dari istri kedua juga meninggal pada pertenghan 2012 karena sakit-dalam. Kami sama-sama dalam posisi cerai mati.Â
*