Berani merupakan satu kata yang mesti dimiliki setiap orang. Berani berbuat, berani bertangjawab. Berani karena benar. Itu beberapa ungkapan lama yang masih aktual sampai kini. Berani kepada apa dan siapapun untuk kebenaran, yang ditakuti hanya  Allah dengan segenap perintah dan larangannya.
Dan banyak lagi ungkapan bagus yang dapat dicontoh, Â diteladani, dijadikan nasihat, dan diajarkan untuk setiap orang.
Sayangnya, sejumlah orang salah menempatkan kata berani dalam hidup mereka. Salah satunya seorang penghina Walikota Surabaya Tri Rismaharini. Entah kebencian apa yang merasukinya hingga ia menghina orang yang mungkin tak dikenalnya secara pribadi. Yang lebih mengherankan lagi, entah keuntungan apa yang bakal dan sudah diperolehnya dengan penghinaan itu?
Tentu ada, meski barangkali sekadar menuruti suara hati, pelampiasan rasa sakit hati atau bahkan penyakit hati. Dan pasti pujian-dukungan-pembelaan dari orang-orang yang memiliki prinsip dan sikap hidup serupa.
*
Terkait hal itu berikut yang diberitakan media: Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya akhirnya berhasil meringkus pelaku yang telah menghina Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Pelaku ditangkap di Bogor, Jawa Barat, Jumat (31/1) malam.
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho mengatakan pelaku ditangkap tanpa melakukan perlawanan. "Iya benar. Pelaku kami tangkap di rumahnya di Bogor Jumat malam, tanpa perlawanan," kata Sandi saat dikonfirmasi, Minggu (2/2/2020).
*
Pelakunya seorang perempuan, ibu rumah tangga anak tiga , dan tampak santun bila dilihat dari penampilannya. Tetapi rupanya hatinya busuk. Itu terlihat dari ungkapannya mengenai sosok Tri Rismaharini. Mungkin ia tidak terlalu tahu, atau bahkan tidak peduli, betapa kecintaan  warga Surabaya kepada ibu itu.
Atau mungkin ia ingin cari sensasi murah, mau jalan mudah jadi beken. Tetapi bukan tidak mungkin ia sekadar minta perhatian, memaksa siapapun mengakui kenekatannya. Dan ia berhasil. Popularitasnya melejit tinggi. Namanya disebut-sebut orang, diviralkan. Wajah dan penampilannya muncul di mana-mana, lengkap dengan kata-kata penghinaannya.Â
Penasaran siapa pelakunya? Cari saja di mbah Google sosok penghina Tri Rismaharini. Secepat itu akan segera tampak nama lengkap, wajah, dan screeshot ungkapan kebenciannya kepada orang nomor satu di Surabaya itu.
Tentu saja pelaku lebih cantik dan muda dibandingkan Risma. Secara umur ia mestinya sangat hormat kepada yang lebih tua. Tampilannya Islami tapi akhlaknya memprihatinkan.
*
Tri Rismaharini bukan sosok sembarangan di Surabaya. Banyak orang tahu itu. Ia tidak sepadan untuk dibandingkan dengan kepala daerah lain yang sangat popular tapi tidak becus kerja. Rasa hormat dan dukungan penuh warga Surabaya didasari atas kinerja dan kerja keras Risma dalam memperjuangkan kota Surabaya hingga memiliki beberapa keunggulan.
Mungkin pelaku merasa geram karena tokoh yang diidolakannya tak cukup piawai menata kota. Dan itulah sebabnya, ditengah apresiasi dan pujian berbagai pihak kepada Risma, dimunculkan hinaan yang sarkas itu.
Facebook digunakannya sebagai sarana untuk menghina. Dan ia lupa ada undang-undang yang mengatur mengenai itu. Undang-undangan Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Penghinaannya bakal berujung pada proses hukum. Kalau saja ia tidak terbawa emosi dan kepicikan tentulah ia akan berpikir sangat panjang untuk menghina, siapapun yang dihinanya.
*
Ungkapan lama menyebutkan, nasi sudah menjadi bubur. Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna. Sekarang tinggal hadapi proses hukumnya dengan berani.
Tidak harus merengek minta belas kasihan, menangis, dan minta maaf. Tidak perlulah. Harus berani saja, seperti saat menghina dengan berani, maka segenap resikonya jalani saja dengan berani.
Bersikap gagah-berani tentu akan mendatangkan puja-puji bagi sesama yang kecanduan penghina. Yaitu mereka yang merasa dengan menghina akan naik harkat hidupnya, melambung harga diri-kebanggaan-kewibawaannya. Bersamaan dengan itu segenap kemenangan muncul di depan mata. Â
Namun, bagi orang lain kasus ini kiranya menjadi pembelajaran bahwa kegemaran menghina itu bukan akhlak mulia. Perbuatan itu niscaya bukan timbul tiba-tiba saja, pasti sudah terpupuk lama.
Barangkali dulu benci dengan seseorang lalu menghina, sebelum itu marah dengan sefjumlah orang lalu menghina, sekarang iri-jengkel-malu-dengki dengan orang lain lalu menghina.
Kepada musuh sekalipun hal seperti itu sungguh tidak baik. Maka jauhi, tinggalkan, dan jangan lakukan. Kecuali kepada setan yang memang memiliki sifat jahat-menyesatkan.
*
Tapi siapa sebenarnya si penghina itu? Akun media sosial yang dilaporkan atas nama Zikria Dzatil (43). Dalam bukti tangkapan layar atau screenshoot, akun tersebut diduga telah dua kali mengunggah foto Risma dengan kalimat hinaan.
Ya, nama si penghina Zikria Dzaatil, warga sebuah kompleks perumahan di Katulampa, Bogor. Tri Rismaharini memberi kuasa kepada Ibu Ira (Kabag Hukum Pemkot Surabaya untuk melaporkan pelaku. Laporan diterima Polisi tanggal 21 Januari 2020.
*
Kita tunggu saja apa yang akan terjadi kemudian. Berani berbuat, berani bertanggungjwab. Berani menghina, berani masuk penjara. Pembelajaran menarik dari sana, menghina itu tidak baik. *** 3 Februari 2020
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI