Dalam kaitan dengan korban miras oplosan berjatuhan --seperti tertulis dalam judul- apakah kita berduka, atau sebaliknya bersyukur? Jawabnya, tergantung beberapa hal.
Bila itu saudara kita, teman atau tetangga dekat, kita pasti ikut berduka. Apalagi ita tahu perilaku keseharian korban bukan pembuat onar, rukun dan ringan tangan untuk membantu tetangga.
Kita sangat berduka apabila tahu (kenal langsung) bahwa korban sebenarnya orang baik, orang soleh, taat beribadah, berbakti kepada kedua orangtua, berperilaku sopan-santun, dan pekerja keras. Mungkin karena menghadapi suatu masalah pelik lalu iseng-iseng dan ikut-ikutan saja,
Memang tidak ada yang tahu kapan dan di mana serta bagaimana cara seseorang meninggal dunia. Orang-orang baik berharap meninggal secara baik, sedangkan orang-orang berperilaku buruk didoakan suatu ketika nanti bertobat dan memperoleh hidayah.
Karenanya bila ada orang baik yang meninggal dengan cara tidak baik tentu kita berduka sangat mendalam. Benarlah disebutkan dalam ajaran agama bahwa kematian (peristiwa, proses, penyebabnya) menjadi pelajaran terbaik bagi orang-orang yang masih hidup dalam menjalani kehidupan masing-masing.
*
Seperti kebiasaan merokok di kalangan remaja, menenggak minuman keras pun tak jarang menular dengan cepat. Terlebih dalam satu kelompok, lingkungan, organisasi, dan bentuk-bentuk kumpulan lain. Parahnya, kalaupun tidak ada seseorang yang menjadi donatur dalam pembelian mirasnya, mereka tidak kekurangan akal untuk mengumpulkan uang secara patungan.Â
Gardu ronda, atau rumah salah satu pecandu minuman keras, atau rumah para pengoplosan minuman biasanya menjadi sarang para peminum (bahkan mungkin narkoba).
Acara ulang tahun, menang pilkades/pilkada, perayaan pernikahan, bahkan perayaan Lebaran menjadi alasan untuk pesta bagi para peminum. Bila sudah rutin dilakukan biasanya sekadar kumpul-kumpul, bernyanyi-nyanyi, ngobrol dan bersendau-gurau, atau berjudi kartu. Kemudian mabuk bareng. Beruntung kalau tidak diikuti akibat buruk ikutannya, yaitu bikin onar, berkelahi, memalak warung dan orang lewat, tawuran, dan akhirnya ditangkap Polisi.
*
Jika kita pernah tinggal di perumahan padat penduduk - warganya dengan status sosial-ekonomi menengah ke bawah- boleh jadi pernah mengalami betapa ngeri, jengkel, marah, dan bahkan antipati terhadap para pemabuk seperti itu.