Dengan melihat fakta-fakta itu, Sujono menyampaikan argumennya sebagai berikut:
"Kalau sekolah tidak terjadi proses pendidikan dan pembelajaran yang benar, bahkan membelenggu kreativitas, mengasingkan dari realitas, mengerdilkan idealisme, membuat bingung, cemas, dan lemah, tentu "lebih baik tidak sekolah". Karena belajar bisa terjadi dengan siapapun, di mana pun, dan kapan pun ketika ada kemauan yang kuat untuk membangun kompetensi diri."
Sujono pun juga mengutip kalimat dari Bahrudin, pendiri Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah, yang juga tempat Sujono mengajar :
"Boleh putus sekolah asal tidak putus belajar (Bahrudin)"
3. Dunia Tanpa Sekolah
Izza memiliki pola pikir yang berbeda. Imajinasinya pun sering berkelana ke berbagai penjuru. Buku adalah yang paling bertanggung jawab terhadap kondisinya tersebut. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, Izza banyak membaca buku selain buku pelajaran. Bahkan, buku-buku "berat " yang jarang dibaca orang dewasa pun habis "dilahapnya". Akhirnya, ia telah merasa telah menemukan apa cita-cita besarnya : menjadi penulis.
Izza pun mulai menulis ketika masuk bangku SMP. Ia ingin mengejar cita-cita yang sudah dipilihnya itu dengan fokus dan sangat serius. Hari-harinya banyak diisi dengan menulis, membaca buku, dan berimajinasi. Itulah yang menyebabkan urusan sekolahnya jadi terbengkalai. Nilai-nilainya merosot tajam semenjak ia mulai rajin mewujudkan mimpinya menjadi penulis. Â Ia pun sering bolos sekolah.
Semakin lama, Izza semakin tidak tertarik dengan sekolah. Bukan hanya karena sekolah telah menghambat perjalanannya meraih mimpi menjadi penullis, tapi ia juga melihat bahwa sekolah sudah menyimpang dari hakikatnya sebagai lembaga pendidikan. Sekolah yang dijalaninya sangat jauh berbeda dengan konsep pendidikan yang diketahuinya dari buku-buku yang dibacanya, seperti buku Bobby De Porter dan Paulo Freire.
Dalam buku ini, kita akan bisa merasakan pemikiran-pemikiran Izza yang penuh pemberontakan terhadap dunia pendidikan. Pemikiran yang susah dipercaya bahwa itu muncul dari seorang anak berusia 15 tahun. Membaca tulisan Izza di buku ini, kita jadi diajak untuk berpikir ulang tentang apakah sekolah memang benar sebagai tempat untuk mengantarkan kita kepada cita-cita atau justru malah menghambatnya.
2. Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat