Mohon tunggu...
Suci Handayani Harjono
Suci Handayani Harjono Mohon Tunggu... penulis dan peneliti -

Ibu dengan 3 anak, suka menulis, sesekali meneliti dan fasilitasi

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan featured

Tradisi Jawa yang Dilakukan Jelang Bulan Puasa

4 Juni 2016   14:31 Diperbarui: 19 April 2020   11:38 12285
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber foto : soloraya.com

Bagi kami, orang Jawa, terutama umat muslim, bulan puasa menjadi bulan yang sangat dinantikan, tidak hanya karena berkesempatan istimewa untuk menjalani ibadah puasa, tetapi juga mengikuti rangkaian tradisi Jawa yang melekat sampai sekarang.

Sebelum memasuki bulan puasa, kami masyarakat Jawa biasanya sudah sibuk, repot menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut bulan ramadan. 

Dan sampai sekarang, meskipun jaman sudah berubah, teknologi semakin maju, tetapi kami, orang Jawa masih kental dengan berbagai tradisi . Beberapa tradisi orang jawa yang mengiringi pelaksanaan ibadah di bulan ramadhan adalah sebagai berikut:

Tradisi yang satu ini butuh persiapan yang tidak cukup lama karena ada beberapa kegiatan yang dilakukan. Nyadran terdiri dari serangkaian kegiatan seperti besik kuburan (membersihkan kuburan), ziarah kubur dan kondangan atau kenduri atau kenduren.

Biasanya dilakukan di hari kesepuluh bulan Rajab atau saat datangnya bulan Sya’ban. Meskipun tidak harus tepat harinya, tetapi orang Jawa biasanya mengambil hari tersebut.

Ritual nyadran dimulai dengan datang ke kuburan untuk besik-besik atau membersihkan kuburan baik dari rumput liar, kotoran daun kering atau ranting kering. Jaman dahulu, di desa, kami biasa datang bersamaan, biasanya orangtua dan anak-anaknya diajak untuk ikut membersihkan kuburan. 

Bisa kuburan nenek/kakek, saudara atau leluhur lainnya. Kami biasa membawa gathul (sejenis cangkul tapi hanya seukuran sabit) untuk mencabuti rumput, dan sapu lidi. Saat membersihkan kuburan, kami tidak sendirian, karena hampir semua warga desa yang mempunyai leluhur di kuburan akan datang dan ikutbesik-besik.

Kemudian kami akan nyekar/ziarah kubur, menaburkan bunga dan mendoakan arwah nenek moyang yang telah tiada.

Nah, biasaanya 2 atau 3 hari kemudian(tergantung kesepakatan tetua dusun ), setelah bersih-bersih kuburan, kami warga sedesa akan melakukan ritual selanjutnya yaitu kenduri atau kenduren di areal kuburan tersebut. Saat kecil, akan dipilih tempat diantara kuburan yang cukup lapang untuk di tata alas tikar yang bisa menampung warga dusun.

Karena hampir semua warga dusun, tua muda, besar kecil akan datang dan ikut kenduren. Tetapi saat kecil dulu, saya juga mengalami tidak lagi kenduren di areal kuburan tetapi pernah di areal sumur agung (di desa biasanya ada sumber air yang airnya menjadi andalan warga saat kemarau). 

Tetapi saya juga pernah mengalami ikut kenduren di rumah salah satu warga desa . Intinya pilihan tempat untuk kenduren terserah warga desa tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun