MOS (Masa Orientasi Siswa) merupakan sebuah kegiatan yang umum dilaksanakan disekolah guna menyambut kedatangan para peserta didik baru. MOS (Masa Orientasi Siswa) biasa kita temui hampir disetiap sekolah, mulai dari sekolah negeri sampai dengan sekolah swasta.
MOS biasanya dilakukan untuk memperkenalkan lingkungan sekolah yang baru kepada peserta didik. Mulai dari guru, fasilitas yang ada disekolah, sampai kegiatan-kegiatan yang ada disekolah tersebut. Sedangkan,
Ospek atau Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus merupakan kegiatan awal bagi setiap peserta didik yang menempuh jenjang perguruan tinggi.
Ospek merupakan kegiatan untuk memperkenalkan kampus kepada mahasiswa baru. kegiatan ini merupakan kegiatan yang menjadi tanggung jawab Universitas/Institut untuk mensosialisasikan kehidupan diperguruan tinggi.
Adapun tujuan OSPEK yaitu :
- Mengenal dan memahami lingkungan kampus sebagai suatu lingkungan akademis serta memahami mekanisme yang berlaku didalamnya.
- Menambah wawasan manusia baru dalam penggunaan sarana akademik yang tersedia dikampus secara maksimal.
- Memberikan pemahaman awal tentang wacana kebangsaan serta pendidikan yang mencerdaskan berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan.
- Mempersiapkan mahasiswa agar mampu belajar di perguruan Tinggi serta mematuhi dan melaksanakan norma-norma yang berlaku dikampus, khususnya yang terkait dengan kode etik dan tata tertib mahasiswa.
- Menumbuhkan rasa persaudaraan kemanusiaan dikalangan civitas akademika dalam rangka menciptakan lingkungan kampus yang nyaman, tertib, dan dinamis.
- Menumbuhkan kesadaran mahasiswa baru akan tanggung jawab akademika dan sosialnya sebagaimana tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
- Untuk bisa saling beradaptasi antar sesame mahasiswa.
Â
MOS dan OSPEK adalah salah satu kegiatan yang dilakukan agar peserta didik lebih mengenal dengan sekolah atau universitas yang mereka pilih. tetapi, sayangnya pelaksanaan MOS dan OSPEK banyak yang tidak sesuai dengan tujuan pelaksanaannya. Faktanya kegiatan MOS dan OSPEK lebih banyak mengandung hal-hal negative daripada positif.
Salah satu yang biasa kita lihat adalah system perploncoan kepada siswa atau mahasiswa baru. Misalnya membawa barang yang aneh-aneh dan didandani seperti badut ataupun seperti orang yang tidak waras, bagi perempuan diwajibkan agar mengikat rambut dengan pita merah putih yang banyaknya sesuai tanggal lahir, memakai kacamata anak-anak, memakai tas dari karung tepung, sampai mengenakan kaos kaki yang berbeda warna. Begitu juga kepada siswa atau mahasiswa laki-laki, mereka diwajibkan mencukur rambut sampai botak.
Bahkan ada yang lebih parah daripada itu, dalam pelaksanaan MOS dan OSPEK juga menggunakan kekerasan. pada bulan juli 2015 seorang siswa SMP tewas akibat MOS, Evan Christoper Situmorang berusia 12 Tahun siswa dari SMP Flora Pondok Ungu Permai. Evan meninggal setelah mengalami sakit dibagian kakinya karena diharuskan berjalan sepanjang 4km dalam acara MOS disekolahnya.
Sungguh menyayat hati, kegiatan MOS dan OSPEK yang dilaksanakan malah berujung kekerasan sampai memakan korban.
MOS dan OSPEK yang dilaksanakan tidak lain adalah ajang balas dendam oleh senior akan pengalamannya ketika mereka mengikuti ospek.
Para siswa atau mahasiswa yang tidak melakukan atau mendengarkan sesuai yang senior katakan/perintahkan maka akan mendapat hukuman. Biasanya dimulai dengan hukuman ringan seperti mencoret wajah siswa/mahasiswa baru, melakukan push up bahkan bisa jadi sampai pada penyiksaan.
Sebenanarnya peralatan yang diwajibkan dibawa dan digunakan oleh siswa atau mahasiswa baru ini tidak ada manfaatnya. melainkan hanya membuat siswa/mahasiswa baru agar terlihat seperti seorang badut saja.
Mengapa masih ada juga hal-hal seperti ini, padahal kegiatan MOS dan Ospek dilakukan agar siswa atau mahasiswa baru lebih mengenal tentang sekolah atau universitas yang dia pilih. apa keterkaitan antara hal-hal yang menyangkut pengetahuan tentang sekolah dengan perlengkapan yang diwajibkan untuk dipakai atau dibawa siswa/mahasiswa baru ? jawabannya tidak ada.
Kemudian, apa dengan kekerasan yang dilakukan kepada siswa/mahasiswa baru dapat melatih ketahanan mental dan disiplin mereka ? tidak, sama sekali tidak. kenapa harus menggunakan kekerasan dan berakhir dengan korban jiwa.
Jika dilihat, pelaksanaan MOS dan Ospek lebih banyak mengandung hal-hal negative daripada hal-hal yang positif.
Mengapa MOS dan OSPEK tidak dilaksanakan sesuai tujuannya saja dan tidak usah ada hal-hal lain yang tidak bermanfaat yang dilakukan. maksudnya, tidak usah lagi dilakukan perploncoan tetapi siswa/mahasiswa baru lebih difokuskan terhadap pengenalan sekolah atau universitas yang dipilihnya.
Mulai dari pengenalan terhadap sesama teman, guru, fasilitas yang ada disekolah dan sebagainya. intinya lakukan dengan hal-hal yang positif yang nantinya akan bermanfaat bagi kegiatan belajar mengajar yang akan mereka tekuni.
Intinya lakukanlah MOS dan OSPEK dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat bagi peserta didik agar mereka merasa senang dengan MOS dan OSPEK tersebut bukan malah merasa takut.
Â
Â
Â
Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H