Mohon tunggu...
Sri Rumani
Sri Rumani Mohon Tunggu... Pustakawan - Pustakawan

Rakyat kecil, bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa kecuali Alloh SWT yang sedang berjalan dalam "kesenyapan" untuk mendapatkan pengakuan "profesinya". Sayang ketika mendekati tujuan dihadang dan diusir secara terorganisir, terstruktur, dan konstitusional... Email:srirumani@yahoo.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Apakah Anggota Korpri Sudah Sejahtera?

29 November 2018   23:57 Diperbarui: 30 November 2018   22:43 300
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hari ini tanggal 29 Nopember selalu diperingati sebagai hari Korpri (Korp Pegawai Republik Indonesia), yang berdiri pada tanggal 29 Nopember 1971 berdasarkan Keppres No.82 Tahun 1971 tentang Korp Pegawai Republik Indonesia. 

Korpri ini sebagai satu-satunya wadah bagi para PNS (sekarang Aparatur Sipil Negara/ASN), di luar kedinasan. Tujuannya  agar dapat meningkatkan pengabdiannya kepada negara untuk memberikan pelayanan publik. Anggotanya PNS, pegawai BUMN, BHMN, BLU, BUMD, dan perangkat desa.

Korpri mempunyai kode etik yang disebut Panca Prasetya Korp Pegawai Negari Republik Indonesia, yang intinya sebagai pedoman dalam bersikap dan bertingkah laku. Pada intinya kode etik sebagai landasan moral setiap anggota  baik dalam menjalin hubungan secara vertikal dengan Alloh SWT maupun  horisontal dengan sesama anggota Korpri. 

Dalam memberikan pelayanan publik lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi dan golongan. Memelihara persatuan, kesatuan dan kesetiakawanan korpri, jujur, adil, disiplin, meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme.

Sekarang masalahnya apakah Korpri sudah dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya ?. Walau gaji sudah 4 (empat) kali tidak naik, tetapi setiap tahun ada gaji ke-13 tanpa dipotong alias diterimakan utuh. Kemudian ada Tunjangan Hari Raya sebesar gaji, sehingga dapat menikmati suasana lebaran dengan suka cita. 

Baru tahun 2019 gaji PNS dan pensiunan dinaikkan sebesar 5 persen dari gaji pokok. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan PNS, walaupun selain gaji pokok masih mendapat tunjangan kinerja (tukin), diterima setiap bulan. Setiap departemen/lembaga negara non departemen besarnya berbeda-beda, sesuai hasil audit BPK masuk kategori Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), sudah berapa persen (60, 70, 80).

Kesejahteraan PNS saat ini sudah meningkat, indikatornya tempat parkir dipenuhi kendaraan roda 2 (dua), atau roda 4 (empat) yang baru diambil dari dealer karena masih ada plastiknya. 

Artinya secara kasat mata PNS sudah merasakan kesejahteaan setelah ada tukin. Masalahnya apakah tukin itu berbanding lurus dengan kinerja setiap PNS?

Menurut pengamatan ternyata tukin tidak serta merta dapat meningkatkan kinerja, profesionalisme dan kompetensi PNS. Budaya kerja, pola pikir dan pola tindak belum berubah secara signifikan, masih dengan pola lama. Masuk kantor sekedar menggugurkan kewajiban, datang dan pulang sesuai jam kerja (07.00 -- 16.00), biar tukinnya tidak dipotong. 

Selama di kantor yang dikerjakan apakah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) ?. Kalau untuk memberi pelayanan, apakah sudah sesuai dengan target yang telah dibuat pada awal tahun ?. Bila tidak terpenuhi target, apa solusi dan inovasi yang perlu dipikirkan ?.

Tukin memang mensejahterakan PNS, tetapi belum menjadikan PNS meningkat profesionalismenya. Untuk menumbuhkan inovasi dan kreativitas, pikiran cerdas, dan bertindak tepat ternyata tidak seperti membalik tangan. Apalagi sudah tertanam budaya "alon-alon waton kelakon"(Bhs. Jawa) artinya pelan-pelan asal jalan. 

Mengubah mindset PNS yang sudah terbiasa bekerja tanpa perencanaan, target, sasaran, tujuan yang jelas, sesuai dengan SOP, memang tidak mudah. Hal ini karena tidak ada reward dan punishment, yang transparan, berkeadilan, dari instituti yang didelegasikan pada pimpinan. 

Ada PNS yang jelas-jelas melanggar etika, norma susila, justru dipromosikan dan mendapat reward, karena dapat memutar balikkan data dan fakta di depan pimpinan. Sementara PNS yang jujur, berprestasi, mempunyai kompetensi justru disingkirkan karena ulah para pecundang yang suka "mencari muka" di depan pimpinan.

Bila lngkungan kerja penuh dengan trik-trik politik yang menjatuhkan teman yang "dianggap" rival dengan terang-terangan maupun secara halus, culas, maka  dimana kesetiakawanan, dan jiwa korp dalam tubuh  Korpri. Padahal Korpri dibentuk untuk menjalin persatuan dan kesatuan sesama anggotanya. 

Dalam kondisi demikian maka kesejahteraan yang diperoleh PNS sekedar untuk memenuhi kepuasan secara materi yang dihitung dengan nilai rupiah. Hati nuraninya bisa jadi sudah mati karena semua serba pragmatis, dihitung dengan untung rugi. Artinya rasa empati, simpati, solidaritas, kesetiakawanan sosial, kekeluargaan, kegotongroyongan,  kedekatan emosi, hubungan pertemanan sudah hilang. Kalaupun PNS dalam wadah besar Korpri, ternyata di dalamnya ada kotak-kotak kecil yang berisi PNS-PNS yang ber kroni. 

Kalau tidak mempunyai kroni tidak bisa diterima dalam kotak itu walaupun masih ada dalam kotak besar bernama Korpri. Dengan demikian kesejahteraan yang diterima PNS saat ini baru secara lahiriah, belum batiniah yang masih jauh panggang dari api. Padahal setiap PNS dalam Korpri terdiri dari dua dimensi jiwa-raga, lahir-batin, fisi -- psikis, semestinya kesejahteraan yang didapat juga dapat memenuhi dua dimensi tersebut.

Yogyakarta, 29 Nopember 2018 Pukul 23.23

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun