Soto, gorengan, sate usus, ceker goreng, teh, sewu mawon. Sebuah spanduk terpampang di depan gerobak mini. Itu artinya semua makanan dihargai hanya seribu.
Tulisan sewu mawon itu yang menjadi perhatian orang yang lalu lalang, terutama para pecinta gowes. Seperti apa sih soto dengan harga sewu mawon? Sewu mawon artinya seribu saja.
Terletak di tikungan Jalan Abdurrahman, dua orang pemuda, mungkin usianya sekitar 20 atau 22 tahun, sibuk menyiapkan makanan. Yang satu meracik soto di mangkuk kecil. Sementara pemuda satunya menggoreng tempe, tahu isi, ceker goreng. Mereka sangat kompak.
![Dokumen Pribadi](https://assets.kompasiana.com/items/album/2021/02/21/img20210221074844-1-603229d0d541df3efc57c972.jpg?t=o&v=770)
Kita tahu untuk membuat soto ayam banyak bahan-bahan yang harus disiapkan, topingnya pun renik-renik, belum lagi harga beras, daging ayam. Pada umumnya pedagang akan menjual dengan harga lima ribu.
Dengan harga murah, soto ini bukan berarti murahan, rasanya cukup enak. Terbukti banyak pengunjung yang antri ingin menikmati soto ayam. Tikar ukuran besar digelar di trotoar sudah penuh oleh orang-orang yang asyik makan. Mangkuk kecil sebagian masih dicuci.
Ya ... soto itu disajikan di mangkuk kecil. Mungkin bagi yang sedang tidak diet, makan dengan ukuran mangkuk kecil tidak kenyang, tetapi kita bisa pesan sesuai kebutuhan. Bagi pecinta diet seperti aku, makan soto dengan mangkuk kecil, tempe goreng dua, sudah cukup. Jadi kalau ditotal, sarapan pagi ini hanya tiga ribu rupiah, sangat minimalis di dompet.
"Sotonya dua, Mas!" kata seseorang yang baru turun dari motornya.
Mas Sugianto, nama penjual soto sewu mawon, berdiri sambil menjawab bapak tadi.
"Habis, Pak, maaf."Â
Aku tertarik untuk kepoin lagi setelah tadi tahu namanya.
"Pagi-pagi sudah habis, memang buka lapak jam berapa, Mas?"
"Jam 4 pagi, Bu," jawabnya singkat.
Ternyata jam 4 pagi dia bersama saudaranya sudah menata gerobak di pinggir jalan, persis samping SMAN 6, depannya SMPN 4 dan SMAN 5 Madiun. Tempat yang sangat strategis, apalagi jika anak-anak sekolah masuk. Soto dengan ukuran mini sangat tepat untuk sarapan atau makan siang anak sekolahan.
![Dokumen Pribadi](https://assets.kompasiana.com/items/album/2021/02/21/soto-sewu-1-60322b87d541df3c56656742.jpg?t=o&v=770)
Menurutnya, jika lagi sepi jam 12 siang baru habis, tetapi, karena ini hari Minggu jam 8 pagi nasi sudah ludes, gorengan pun bersih.
"Masak nasi lagi saja, Mas!" kataku sambil membetulkan sepatu.
"Kasihan Ibu saya kalau harus masak lagi, Bu," jawabnya sembari kipas-kipas badannya dengan sobekan kerdus aqua.
Lagi-lagi aku kaget, ternyata ada sosok seorang ibu yang membantu memasak. Aku jadi teringat ketika lulus sekolah dan bekerja di salah satu SMA Negeri, aku membawa jajanan ke kantor untuk dititipkan di kantin. Jam 02.00 Ibuku bangun dan memulai membuat makanan. Bukan tanpa alasan aku berjualan, gajiku sebagai tenaga honor tidak besar.
"Jangan menyepelekan hal-hal yang remeh, gaji sedikit, penghasilan sedikit yang penting berkah!" pesan Ibu ketika aku mengeluh dengan gaji yang sedikit.
Berkat doa-doa dan dukungan Ibu, aku menjadi seperti sekarang ini.
Aku juga berharap dengan hanya soto sewu menjadi keberkahan bagi penjual atau pembelinya.
Jangan remehkan nilai seribu atau sewu, jika dikumpulkan akan menjadi beribu-ribu, berjuta-juta bahkan lebih. Amin.
21 Februari 2021
Salam hangat,
Sri Rohnatiah
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI