"Kamu kenapa  nak? Kenapa nangis ? " papa niskala bertanya kepada niskala.
"Ayo nak, tiup lilinnya, kenapa kamu nangis ?" mama niskala pun juga ikut keheranan melihat nisakala.
Dinda, dan okta pun juga hanya saling tatap dan tidak tahu dengan apa yang terjadi pada niskala dihari ulang tahunnya.
Waktu pun berlalu, dan niskala pun tumbuh remaja bersama dengan 2 orang sahabatnya. Mereka tumbuh dan bersekolah bersama. Hingga suatu hari, niskala dan dinda kesiangan saat sekolah, dan menggunakan rok sekolah diatas lutut.Â
Sesuai dengan aturan sekolah yang ada, siswi tidak boleh menggunakan rok yang berada diatas lutut, jika kedapatan menggunakan rok tersebut, maka pihak sekolah akan menggunting rok tersebut.
Karena niskala buru-buru dan sudah terlambat, niskala salah menggunakan rok sekolahnya, niskala menggunakan rok yang berada diatas lututnya. Lantas, guru niskala pun menegur niskala ;
"Kamu, udah telat, rok kamu begini lagi, saya gunting ya, biar tau rasa!" ucap guru niskala.
Mendengar hal tersebut, emosi niskala tidak dapat dikontrol, dan niskala melawan gurunya ;
"Ibu ga berhak ya gunting-gunting rok saya, ( mengambil gunting dari tangan ibu guru ) , rok ibu aja sini yang saya gunting, mau ?!! " ucap niskala.
Melihat hal tersebut, dinda langsung menahan niskala, dan membuang gunting yang dipegang oleh niskala, karena takut jika niskala melakukan hal-hal yang dapat melukai dirinya sendiri atau bahkan orang lain.
Kejadian tersebut akhirnya harus disampaikan pihak sekolah ke orang tua Niskala, lalu Niskala dibawa oleh kedua orang tuanya ke Psikiater, dan ternyata Niskala didiagnosis terkena "Bipolar".