Dari segi ilmu komunikasi produk, kegiatan anak-anak mendatangi mall atau toserba bisa dianalisis dari sisi persepsi stimulus-responses, yang bisa menunjukkan bahwa dalam proses pembentukan persepsi, anak-anak mengawali dengan perhatian yang positif.Â
Mereka dapat menginterpretasikan secara baik informasi dan juga mendapatkan pengetahuan tentang pesan merek produk yang disampaikan dalam iklan.
Pendidikan konsumen bertujuan memberikan pengetahuan tentang perlindungan konsumen, tahu akan kewajiban dan hak-haknya dalam berkonsumsi barang dan jasa, agar konsumen menjadi pembelanja yang smart, berperilaku yang bertanggung jawab, memiliki gaya berkonsumsi yang sehat,dan cinta produk dalam negeri, serta tidak mudah tertipu atau terpedaya pada waktu mengambil keputusan dalam berkonsumsi barang maupun jasa, tidak konsumtif.Â
Pengertian Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lainnya. Seperti Kucing dan Anjing yang menjadi binatang kesayangan yang dipelihara di rumahnya.
Menurut pengertian Pasal 1 angka 2 UU Perlindungan Konsumen, "Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan."Â
Mengintegrasikan pendidikan konsumen dalam pembelajaran di dunia pendidikan, dapat dilakukan dengan pengajaran nilai-nilai karakter konsumen yang smart, sehat, bertanggung jawab, teliti, hati-hati dan waspada melalui tiga pilar pendidikan tersebut, terutama pilar pendidikan dalam keluarga.
Didalam keluargalah anak lebih banyak waktu dalam kesehariannya. Untuk itu orang tua terutama Ibu harus memberikan Pendidikan Konsumen sekaligus pendidikan karakter agar anak memiliki kemampuan menjadi pembelanja yang berkualitas, selektif, dan sesuai dengan skala prioritas kebutuhan yang positif.
Anak perlu diajarkan menjadi smart shopper mulai dari menyusun perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasinya.Â
Pelaksanaan pendidikan konsumen yang berkarakter di dalam keluarga perlu didukung oleh keteladanan orang tua terutama Ibu, serta budaya lingkungan yang berkarakter, oleh karena itu Ibu dituntut dapat berperilaku berkonsumsi dalam sehari-hari yang dapat dicontoh oleh putra putrinya. [SRIM}
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H